Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🦄🦄🦄
Suasana tampak hening, hanya ada suara dentingan garpu dan sendok di ruang makan, Papah, mamanya, dan Alita masih menikmati makan malam.
Anya mulai meneguk air putih, sebelum ia benar-benar menghabiskan makanannya, "Aku ke kamar dulu," ucap Anya yang kini beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu!" suara itu menghentikan langkah Anya, "Duduk! Papah mau bicara sama kamu."
Anya kembali duduk tanpa menyantap makanan, beda dengan adiknya ia masih lahap dengan ayam goreng masakan mamanya, "Kenapa, Pah?"
"Alita, sebaiknya kamu makan di depan sama Mama, ya?" ucap Arkan pada putri kecilnya.
"Kenapa pah? Lita maunya disini ga mau di depan," cetus Lita, lantas ia memasukkan satu suap ayam goreng.
Arkan berbisik pada istrinya, lalu istrinya mengangguk dan dan kini berdiri menghampiri Alita, "Ayo sayang, kita nonton upin ipin okeh?"
"Iya, Mah!" kini Alita dan mamanya melangkah menuju ruang tamu, tak lupa Alita terus membawa piringnya yang berisi ayam goreng.
Arkan menatap Anya lekat-lekat, "gimana?" Arkan memasukkan satu suap nasi ke mulutnya.
"Gimana apa, Pah?" tanya Anya, ia mengerutkan dahinya tak paham
Arkan menelan makanannya dan meneguk segelas air putih, diraihnya ponsel yang ada di saku celananya, "ini? Kamu melanggar peraturan Papah?" Arkan menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto Avisha dan dirinya.
'Itukan pas di taman' batin Anya bergumam, "Papah suruh siapa buat jadi penguntit aku?"
"Bukan penguntit, lebih tepat seseorang yang jagain kamu, sekarang jawab pertanyaan Papah, kenapa? Kenapa kamu masih berteman baik sama dia?" Arkan menatap lekat-lekat anaknya
"Pah, aku bisa turutin semua perintah Papah, aku nurut dari selasa sampai kamis ikut les tambahan aku juga udah turutin mau Papah buat nggak ikut ekskul non akademik di sekolah, tapi kalo yang ini aku nggak bisa, Pah!" Anya memohon dan kedua tangannya menggenggam erat tangan Arkan.
"Kenapa?" Arkan membentak Anya dengan suara lantangnya, seketika itu Anya tersentak kaget rasanya ia ingin sekali menangis.
Anya adalah tipe orang yang tak bisa di bentak sedikitpun, matanya sudah berkaca-kaca, kepalanya tertunduk, namun kini Arkan mengelus lembut puncak kepala anaknya.
"Kenapa kamu nggak nurut sama, Papah? Ini semua demi kepentingan kamu?" suaranya memang lirih tapi suara lirih itu seakan tajam di telinga Anya, hingga hatinya ikut tertusuk perih mendengarnya.
Sudah tak tahan lagi. Anya menumpahkan segala tangisnya di hadapan Arkan, ia masih tertunduk bahunya bergetar, "Mau Papah apa? Hiks hiks," ucap Anya sesenggukan
"Cari teman yang selevel, kalo bisa levelnya lebih tinggi dari kita." Arkan berhenti mengelus rambut putrinya. "Kalo emang kamu punya teman yang tak selevel sama kita, lebih baik jangan jadikan teman dekat."