Pernah tidak kalian merasa kehilangan sosok yang sangat berharga, entah itu sahabat atau keluarga. Jika iya, pasti sakit, sangat sakit. Sulit untuk tersenyum bahkan untuk mengingatnya saja hati ikut teriris.
Keinginan kita menolak untuk kehilangan sosok yang berharga, namun kita dipaksa untuk menerima keadaan saat ini. Seperti halnya sekarang, Anya sudah resmi keluar dari sekolah hari ini. Ia benar-benar meninggalkan kota ini
Seseorang yang duduk di sebelah Avisha itu mencolek lengannya, dengan refleks Avisha melihat seseorang itu yang kini memberikannya secarik kertas yang terlipat, "ini," ucapnya tanpa mengeluarkan suara
Avisha.
Maafin aku, aku tahu dosa-dosa ku terlalu banyak sampai-sampai aku nggak pantes dapat maaf dari kamu.
Tapi, aku tahu kamu orang baik. Jadi, maafin aku ya
Avisha meremas kertas itu, ditatapnya seseorang yang kini duduk sebangku dengannya, "gue maafin kok!" ujarnya sembari tersenyum
Ariala tersenyum lalu menundukkan kepalanya, ia merasa kesalahannya tidak akan hilang hanya dengan meminta maaf, mulai dari merusak persahabatan Avisha dan Anya, menghakimi Avisha yang jatuh miskin, dan menyuruh seseorang untuk mengunggah kebangkrutan toko Ayam ibunya.
"Ril," panggil Avisha seketika itu Ariala mendongak, Avisha bisa lihat sendiri jika Ariala menangis tadi, "sebentar lagi guru dateng, jangan nunduk terus."
Ariala mengusap air matanya, dan duduk dengan benar.
Sama halnya dengan Avisha, untuk apa juga ia membenci Ariala? Toh, kejadian itu sudah berlalu dan membencinya juga tidak akan mengembalikan Anya kesini. Jadi, apa faedahnya? Sekarang Avisha harus fokus ke masa depannya, ia harus memikirkan beberapa tes untuk masuk perguruan tinggi.
Jika saja ada Anya, pasti dia akan membantu Avisha, ah untuk apa juga berkhayal seperti itu.
***
Nuri, Somi, dan Ariala kini duduk di hadapannya. Ternyata mereka baik, hubungan Ariala dan Somi pun sudah membaik karena Somi telah memiliki kekasih dan ia berhasil move on dari Bara.
Mereka selalu menghibur Avisha yang termenung, mereka juga mengeluarkan candaan yang sebenarnya garing tapi, tanpa mereka apa yang bisa Avisha lakukan?
Jika tidak terjadi hal seperti kemarin, Avisha tidak akan menemukan hal baru seperti ini. Selama ini matanya tertutup, orang yang bahkan ada di sekitarnya Avisha tak mengenali, tapi sekarang Avisha memberanikan diri untuk bertanya agar dirinya tidak egois lagi seperti dulu. Ia juga selalu menawarkan bantuan, ia takut salah satu diantara mereka ada yang senasib seperti Anya.
Bukankah Avisha telah berubah? Sudah. Tapi, jika kamu peduli pada orang lain maka lebih pedulilah pada diri sendiri, karena jika terlalu banyak membantu orang lain sampai-sampai mengorbankan kebahagiaan kita, itu sangat tidak benar. Karena, hakikatnya adalah cintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain, peduli pada diri sendiri sebelum peduli pada orang lain.
Meskipun beberapa orang sulit melakukan hal tersebut. Justru, kebanyakan orang melakukan yang sebaliknya.
"Sa, gue tahu rambut lo bagus tapi," Somi menggantungkan kalimatnya, "tapi mau nggak pergi ke salon bareng gue? Ikut yah! Bosen nih gue ke salon sama Riri terus!"
"Dasar kentang lupa kulitnya!" ujar Nuri yang tak lain adalah Riri- nama panggilan
"Kok kentang si Ri? Kacang kali!" kesal Somi
"Kalo kacang bikin jerawatan mending kentang, enak dan bergizi. Yaa meskipun burik!" ujar Nuri
"Jadi lo ngatain gue burik?" tanya Somi penuh selidik
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)