Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mon maap ya reader's numpang post vektor wkwk 🌹
Pagi yang penuh dengan ketegangan, hari pertama UAS Avisha merasa sangat gugup, takut tidak bisa mengerjakan soal, takut tidak bisa menahan rasa ingin mencontek, dan takut hasilnya diluar ekspektasi. Semoga saja UAS hari pertama sampai akhir bisa berjalan dengan lancar.
Avisha tersenyum sumringah, melihat bus sekolah telah mendekat ke arah halte, ia mengeratkan kepalan tangannya pada tas gendong, Bismillahirrahmanirrahim.
Avisha memasuki bus yang sedikit penuh, ia mencari satu tempat duduk untuk dirinya namun sepertinya pagi ini ia harus berdiri. Oke tidak apa bukan masalah
"Aishhh!"
Seseorang telah mendorong tubuh Avisha dari belakang, hingga dirinya hampir jatuh terjungkal.
"Ehh sorry! Sorry!" ujar seseorang yang telah menubruk Avisha
Avisha memutar tubuhnya, melihat seseorang yang telah membuatnya hampir terjatuh.
Avisha menampakkan mimik muka yang malas, kenapa pagi yang cerah ini harus bertemu dengan Revan, astaga. "lo kenapa si? Gangguin keceriaan gue aja!"
Avisha menyipitkan matanya, seakan jijik apa yang Revan katakan barusan, belum lagi kini penghuni bus di dekat mereka melirik dan sesekali menyembunyikan senyum. Revan ini terkesan seperti om om yang sedang menjahili anak SMA.
"Maaf om saya masih sekolah!" ujar Avisha meledek Revan
Anak sekolah lain yang ada di dekat merekapun tertawa, ada yang terang-terangan terbahak, dan ada pula yang menutup mulutnya takut ketahuan.
Revan mengacak rambutnya, seakan tak percaya apa yang dikatakan Avisha barusan, sungguh perkataannya membuat dirinya malu sampai ke ubun-ubun, bagaimana tidak dirinya di sebut om om padahal kan Revan berkata jujur jika Avisha ini memang cantik.
"Lo tu ya, sekali aja jangan bikin gue malu bisa nggak!" ujar Revan lirih, bahkan dirinya membisikan perkataannya melalui telinga Avisha
Avisha mengedikkan bahunya tak acuh, ide licik muncul di otaknya.
"Maaf, tapi saya ini perempuan baik-baik, saya masih pengen sekolah dan membanggakan orang tua!" jawab Avisha memelas, padahal sekarang hatinya bergejolak ingin tertawa lepas.
Revan melongo kaget, ia kembali di kejutkan dengan perkataan Avisha, tega sekali ia mempermalukannya dua kali di depan umum.
"Hahahaha!"
"Mba nya hati-hati, kali aja di jahatin sama om itu!"
"Masih sekolah kan ya?"
Begitulah seru seisi bus, tertawa dan ada pula yang membela Avisha, sedangkan Avisha merasa menang dan menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menyembunyikan senyum yang tidak bisa di tahan lagi.