Bagian 64|| Pergi

457 35 1
                                        

Sudah hampir satu jam Revan menghubungi Avisha, tapi panggilannya tak kunjung diangkat. Sebenarnya kemana dia? Bisa-bisanya dia pergi pada saat puncak acara bahkan acara pernikahannya hampir selesai.

"Revan."

Mendengar panggilan itu Revan berbalik dan menatap Shinta dengan raut wajah khawatirnya, "iya tante?"

"Dimana Avisha? Kemana dia?"

Revan menghela nafas berat, pasalnya ia sendiri saja tidak tahu dimana Avisha sekarang, "saya coba hubungi tapi nggak bisa tante, apa saya coba cari ke kamarnya?"

"Iya sana, kayaknya temen-temen Avisha juga udah mau pulang!"

"Iya Tante, saya permisi ya?"

Revan melangkah menuju kamar Avisha, sesampainya ia mengetuk dan memanggil nama Avisha namun tak ada jawaban dari dalam.

"Sa, kalo lo nggak bukain pintunya. Gue masuk nih?!" seru Revan dari balik pintu.

"Avisha lo nggak abis mandi kan? Gue masuk ya?" ujarnya, karena lelah tak kunjung ada jawaban dari dalam kini Revan masuk dan tidak ada siapapun disana, dan ia juga melihat ponsel Avisha tergeletak di atas ranjang. Pantas saja panggilannya tak kunjung dijawab

"Dasar ceroboh, bisa-bisanya ninggalin hp," maki Revan, ia sangat kesal karena Avisha pergi tanpa mengatakan apapun pada siapapun

Revan kembali ke depan, ia lihat acaranya sudah selesai. Terlihat Shinta dan Ahdi beserta para orangtuanya yang masih bingung dimana Avisha sebernarnya? Mereka sudah bertanya pada semua tamu tapi mereka bahkan tak melihat Avisha.

"Di kamar nggak ada tante!" adu Revan

Shinta tampak semakin cemas, "sebernarnya kemana sih Avisha, apa kamu nggak terima pernikahan ini!"

Ahdi dengan segera memeluk Shinta yang kini menjadi istrinya itu, dan menenangkannya dengan beberapa kata-kata lembut.

"Nggak mungkin tante, Avisha bahagia kok liat tante nggak sendiri lagi!" ucap Revan berharap Shinta tidak berfikir macam-macam

"Mah, Pah. Revan mau disini dulu. Mama sama Papa kalo mau pulang, pulang aja dulu," adu Revan pada orang tuanya

"Iya Van, tolong bantu cari Avisha ya!" ujar Ibunya

Tidak lama setelah orang tuanya berlalu Revan melihat ada mobil yang baru saja datang, ia bisa melihat siapa pemilik mobil itu.

Ihza, ia berjalan menuju kearah Shinta dengan wajah sedikit cemas, "mah," ucapnya setibanya ia di hadapan Shinta ia langsung memeluknya

"Mamah kira kamu nggak datang!" tanpa sadar Shinta menitikkan air mata, rasa rindu pada putranya ini tidak dapat dibendung lagi.

"Kamu sibuk kerja nak? Kamu pasti capek, harusnya kamu istirahat aja!"

"Nggak mah, aku mau hadir di hari bahagia mama! Maaf mah, Ihza telat." Ihza melepas pelukannya, ia beralih menatap Ahdi yang kini menjadi Ayahnya. Tanpa aba-aba Ahdi memeluk tubuh Ihza dengan erat, dan Ihza membalas pelukan Ahdi.

"terimakasih sudah mencintai Mama saya, tolong jaga mama saya dan pastikan dia baik-baik saja," ucapnya

Ahdi melepas pelukannya, "yah, saya akan menjaga Shinta."

"Masalahnya Bang, dari tadi kita nggak liat Avisha dimana," ucap Revan membuat atensi Ihza beralih

"Maksud lo?"

"Gue juga nggak tahu, dia pergi kemana."

"Mamah khawatir Za, adikmu mungkin nggak terima pernikahan mamah terus dia kabur!" ucap Shinta dengan cemas, matanya memerah karena menahan tangis

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang