Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
no post ig
🦄🦄🦄
Avisha berlari kecil berharap tak tertinggal bus hari ini, sungguh sial sekali Shinta berangkat sangat pagi, Bisma marah karena snacknya ia habiskan dan saat Avisha memintanya untuk menjemput ia tidak mau, dengan alasan balas dendam.
Avisha berhenti sejenak, ia memegangi lututnya yang terasa nyeri, tapi Avisha bisa menahannya sekarang, namun ingatannya berputar pada jersey basketnya, ia lupa bahwa hari ini ada ekskul basket. Meski Avisha tahu jika Shinta telah menyiapkan semua kebutuhan sekolahnya namun ia membuka tas gendongnya hanya sekedar memastikan apakah ia membawanya.
"Hahh syukurlah!" lirihnya sembari memasukkan kembali jersey yang sempat ia angkat.
Jelas ia sangat bersyukur karena dirinya sudah hampir sampai pada halte bus depan perumahannya, jika nanti jerseynya kelupaan, potek sudah lututnya
Avisha menyalakan ponselnya hanya sekedar memastikan jam berapa sekarang, karena dirinya tak suka memakai jam tangan, setengah tujuh pas. Astaga mana mungkin bus anak sekolah melewati halte.
Avisha menggertakkan kakinya diatas aspal, rasanya ingin menangis sekali hari ini, ia sudah susah payah belajar sampai malam hanya untuk mengerjakan soal matematika yang akan ia buktikan kepada Anya jika dirinya bisa, dan hari ini adalah pemilihan tim basket untuk pertandingan bulan depan.
"Ya Allah, berilah hamba keajaiban, hamba mohon Ya Allah!" ucapnya sembari menenggelamkan wajah pada kedua telapak tangannya, jangan tanya lagi Avisha menangis tanpa isakkan
Tin tinn
Suara klakson mobil yang menderu membuat Avisha membuka telapak tangannya yang menutup seluruh wajahnya, ia memang berada di samping aspal mungkin hanya beberapa sentimeter menuju tengah jalan, mungkin Avisha menghalangi laju mobil tersebut.
Namun dugaan Avisha salah, ketika pemilik mobil mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil yang terbuka. "woi ngapain nangis di pinggir jalan? Mau di pungut om om lo?"
Avisha memicingkan matanya, sungguh ia sangat membenci ucapan Revan barusan, yah benar dia Revan seseorang yang membuat suasana hati Avisha semakin kacau.
"Keluar lo!" serunya sembari menepuk bagian depan mobil, "keluar lo, ulangin apa yang tadi lo omongin!"
Revan masih tetap dalam mobil, justru kini ia membuka kaca mobil yang dekat dengan posisi Avisha berdiri, "masuk Sa, kalo mau ngomel di dalem aja!"
"Gue nggak sudi naik mobil lo!" cetusnya
"Gue nggak mau telat ya, dan gue juga nggak bisa ninggalin lo sendirian di pinggir jalan kayak orang diusir," ucap Revan penuh penekanan, "masuk Avisha cengeng!"