Bagian 32|| Memulai Rencana

407 36 5
                                        

🌹

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹

Hari yang sesuai untuk memulai sebuah rencana, masih ada waktu sampai jam dua belas, itu sebelum Avisha mengikuti lomba basket hari ini.

Kini Avisha, Anya, dan Ariala tengah berdiri di gudang sekolah, yah tempat yang diminta oleh Reno sendiri mungkin ia akan melancarkan aksinya untuk membully Ariala, licik memang ia memilih tempat yang aman agar semua orang tak melihat.

"Ehh itu Reno!" lirih Anya, saat melirik keluar jendela gudang

Tampak Reno berjalan, sembari celingukan meneliti setiap sudut agar tidak ada satu orangpun yang melihatnya menuju gudang.

"Lo harus siap Ril! oke?" yakin Avisha

Ariala mengangguk dengan cepat lalu mendorong tubuh mereka, "cepetan kalian ngumpet!" lirihnya

Setelah itu Avisha dan Anya mengumpat di bawah meja usang dan hanya tertutup beberapa kursi usang dan sapu serta buku-buku tak layak pakai.

Anya melancarkan aksinya, begitu pula Avisha.

Pintu gudang terbuka, dengan sigap Reno menutupnya lalu melangkah kasar ke hadapan Ariala.

Hal pertama yang ia lakukan adalah menendang betis Ariala, hingga Ariala meringis kesakitan sampai tubuhnya jatuh ke atas lantai.

"Gagal lagi?" tanya Reno dengan sorot mata yang menyeramkan

Sungguh ini bukan Reno yang orang-orang lihat, ini bukan Reno seorang ketua OSIS yang membanggakan, bahkan kini Anya menggeleng tak percaya dengan sikap Reno, ia jadi menyesal pernah mengaguminya. eh salah maksudnya mengagumi ketampanannya.

"Iya!" lirih Ariala di balik rambut yang menutup seluruh wajahnya

Reno berjongkok, mengimbangi posisinya dengan Ariala, "liat gue!"

Ariala menggeleng, ia tampak terisak di balik rambut panjangnya, namun telunjuk Reno berhasil meraih dagu Ariala dan mulai menyingkirkan rambut yang menutup seluruh wajah Ariala.

"Gue nggak tau mau sampe kapan lo gagal, dan gue juga nggak tau gimana nasib keluarga lo setelah ini tapi," Reno menggantungkan kalimatnya lalu berdiri tegak di hadapan Ariala

Bugh

Tendangan kaki kanan Reno sukses membuat tubuh Ariala terjatuh, Ariala terus memeluk lututnya sembari terisak dan menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian lengan.

"Bangun lo!" lirih Reno, namun kalimatnya seakan menusuk, itu ia lakukan karena takut siswa lain mendengarnya.

Ariala mencoba berdiri meski tubuhnya terasa sakit dan entah bagaimana ia terjatuh karena kakinya lemas dan takut.

"Gue harap lo selesaikan tugas dari gue sebelum jabatan gue lengser jadi ketos!" peringat Reno, "ngerti lo?!"

Ariala mengangguk, ia melihat Reno mulai melangkah untuk keluar gudang.

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang