Tok tok tok
Seketika tatapan Alano mengarah ke pintu kamarnya, "Masuk!"
Seseorang lelaki paruh baya bertubuh jenjang itu masuk ke dalam kamar, dan berdiri tegak di belakang tubuh Alano yang kini tengah duduk di meja belajar.
"Sepertinya anak Ayah sudah mulai menampakkan senyum?" tanyanya ramah diiringi senyum yang menenangkan
"Pasti Ayah tau dari Rara ya?" Alano menatap lekat-lekat Ayahnya itu. "Rara nggak cerita banyak kan, Yah?"
"Rara emang ngga cerita banyak, Ayah yang nyuruh dia cerita banyak," kini senyum ringan menyeringai dibibir Ahdi Algibran. "Ayah ngga masalah selama perempuan itu baik buat kamu dan sekolah kamu, dan yang paling penting kamu harus tetap belajar bagaimanapun akademik kamu perlu untuk meneruskan perusahaan Ayah."
"Iya Ayah." Alano kembali menatap buku yang ada di hadapannya dan menuliskan beberapa materi untuk hari esok.
Ahdi tampak menepuk bahu kiri Alano, dan kini ia berlalu meninggalkan kamar.
Alano merasa suasana hatinya sedang buruk, baru saja ia menyelesaikan PR matematika dan fisika otaknya masih terpaut rumus-rumus yang rumit, bukannya mendapat hiburan justru pikirannya terus dikekang untuk menjadi penerus perusahaan.
Akhir-akhir ini hidup Alano terasa kosong, tak ada lagi yang mendekat sebagai seorang teman, semua temannya menjauh semenjak kejadian menyedihkan itu menimpanya namun semenjak SMA ia menemukan seseorang yang hadir dan mampu menghangatkan hatinya.
Kini tatapannya beralih ke arah ponsel, tak ada salahnya jika Alano menelfon Avisha ia tahu sebentar lagi Avisha akan menghubunginya namun kali ini berbeda ia yang akan menghubunginya lebih dulu.
Telfon mulai tersambung, Alano masih ragu untuk menanyakan beberapa persoalan pribadi Avisha jadi sekarang percakapan ini hanya membahas seputar keseharian.
Benar, hatinya menghangat ia begitu terhibur dengan panggilan baru Avisha untuknya. Nano, menurutnya imut tapi Alano hanya tersenyum dan pasrah apa saja yang akan Avisha ucapkan itu sudah membuat hati Alano senang.
"Selamat malam Avisha." namun sepertinya sang pemilik nama sudah meninggalkan ponselnya, dan hanya ada bunyi hentakan kaki yang amat keras, sepertinya benar ada tamu.
Alano mulai meletakkan ponselnya diatas nakas, dan menatap sendu seseorang yang tersenyum manis dalam balutan bingkai hitam, foto itu terus Alano tatap sebelum ia tidur, bahkan sesekali ia mencium dan mengelusnya.
***
Hari baru dimulai, hari dimana dirinya menjadi kakak kelas justru itu menjadi hal yang paling mengecewakan baginya.
Hal yang paling memalukan baru saja terjadi, dan apakah mungkin hal itu akan terus melekat pada pikirannya. Entahlah Avisha rasa tak ada lagi yang harus diperjuangkan meski kini persahabatannya runtuh ia akan membiasakan dirinya bermain tanpa Revan dihidupnya.
Kini tatapannya mengadah kearah white board di hadapannya, namun yang dijelaskan guru itu hanya seputar pengalaman pribadinya dan beberapa candaan yang membuat seisi kelas tertawa, namun suasana hati Avisha sedang buruk dan sulit menangkap suara yang bergeming.
Tampak Syila yang ia tahu adalah anggota OSIS dan pacarnya Revan, kini ia masuk ke kelasnya dan membawa seorang lelaki yang berseragam SMP, adik kelas yang sedang melaksanakan kegiatan MOS jadi mungkin ini adalah permainan mereka masuk ke kelas lain dan memberi bunga sambil mengucapkan 'i love you'.
Avisha ingat betul saat ia baru masuk kelas sepuluh ia dihukum untuk masuk kelas sepuluh IPA 1 dan melakukan hal itu, yang pasti ia memberikan bunga dan ucapan itu untuk Revan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Roman pour AdolescentsKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)