.
.
"Hallo, Sa?"
"Iya kenapa, Mah?"
"Hari ini mamah pulang telat ya, tapi nggak sampe tengah malem kok!" ujar Shinta dari seberang telepon, "kamu ngga pa-pa kan?"
"Iya, mah."
"Tadi mamah udah beli telur biar kamu nggak makan mie terus."
"Iya mah."
"Kenapa kamu kok lemes banget? Ada masalah di sekolah?"
"Nggak ada kok."
"Yaudah mamah tutup ya, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Shinta menghela nafas dalam, sebernarnya ia tak tega meninggalkan putrinya setiap hari bahkan di hari minggupun Shinta harus pergi.
Shinta tengah sibuk merekap uang pengeluaran dan pemasukan di ruang kerjanya, sebenarnya ada hal yang belum Ahdi tahu, hal yang selama ini Shinta sembunyikan.
Hutang. Shinta memiliki hutang pada pemilik toko terdahulu, saat itu tokonya sangat sepi pengunjung hingga dia tak mampu bayar uang sewa perbulannya, biaya pemasukan sangat sedikit dan ia juga harus mementingkan gaji karyawan alhasil uang yang belum Sinta bayar menunggak.
Ia juga meminjam uang dari bank untuk membayar uang sewa toko sedikit demi sedikit, limapuluh persen hutang sewa lunas namun Shinta tak dapat melunasi hutang bank tepat waktu, alhasil hutangnya kian bertambah dan akhirnya ia bangkrut.
Ada rasa sedikit tenang, karena ketika tokonya bangkrut ada Arkan yang datang dan tiba-tiba menawarkan lahan sekaligus toko baru untuknya, dan uang sewa toko terdahulu pun dilunasi olehnya. Dan sekarang Shinta harus bekerja keras untuk melunasi hutangnya pada bank.
Shinta tak berniat sedikitpun untuk memberi tahu Ahdi, karena ia sudah banyak membantunya, jelas sangat banyak bahkan dari awal Shinta bercerai dengan Dikto, Ahdi yang menghidupi dirinya dan Avisha karena Dikto benar-benar pergi dan lepas tanggung jawab, sampai pada akhirnya Shinta ingin menghasilkan uang sendiri dan Ahdi yang membantu Shinta merintis toko ayam terdahulu.
Brakk
Shinta terkejut, bahkan ia benar-benar terbangun dari lamunannya, ia mendengar gebrakan meja dari tempat makan pengunjung.
"Pokoknya saya mau uang saya kembali!"
Mendengar teriakan yang begitu nyaring itu sontak membuat Shinta berlari menuju sumber suara.
Shinta bisa melihat lelaki bertubuh besar dengan wajah penuh emosi dan Mian yang tertunduk dan meminta maaf berkali-kali.
"Maaf pak, tapi saya benar-benar membuatnya dengan higenis bahkan saya sendiri memakai jilbab mana mungkin-"
"Saya nggak mau tau, pokoknya kembalikan uang saya!"
"Ada apa ini?" tanya Shinta ketika tiba disana
"Ini Bu ada-"
"Ada rambut di nasinya dan ada nyamuk di jus jeruk ini, LIHAT!" teriak lelaki itu sembari menunjukkan jus jeruk dan nasi yang ia pesan
Memang ada satu nyamuk mati di dalam jus jeruk itu, dan jika dihitung ada tiga helai rambut panjang di nasi tersebut.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan Bapak, tapi saya yakin karyawan saya tidak memasukkan rambut kedalam makanan tersebut," ujar Shinta sangat lembut.
"Jadi maksud anda saya yang memasukkan rambut itu?" tanya lelaki itu penuh penekanan
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)