Ihza mengeratkan pegangannya pada stir mobil, ia melajukan mobilnya dengan perasaan bahagia, mungkin air mata yang mengalir di matanya ini adalah air mata kebahagiaan.
Ia mencoba untuk menetralkan emosinya setelah dirinya sudah dekat dengan tujuan, ia memarkirkan mobilnya dan memasuki rumah yang sudah lama ia tinggal itu, mengingat hubungannya dengan sang Ayah tidak baik-baik saja.
Ihza menekan bel rumah, ia berkali-kali melihat lembaran kertas yang ada di tangannya, dan memastikan bahwa dirinya tak salah baca. Namun, tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampakkan sosok Ayahnya disana.
Dengan cepat Ihza memeluk tubuh kekar Dikto yang masih mematung, Ihza memeluknya dengan erat bahkan ia menumpahkan segala tangisnya di bahu sang Ayah.
Dikto hanya terdiam, ia juga sangat merindukan anak ini tapi, mengingat hal-hal kemarin membuat dirinya enggan membuka mulut sebelum putranya yang lebih dulu mengadukan sesuatu.
Ihza melepas pelukannya, "Pah, lihat ini Pah!" ujar Ihza dengan semangat sembari menunjukan kertas hasil tes DNA
Dikto meneliti setiap hasil yang tertulis pada kertas tersebut, dan begitu mengejutkannya jika hasil akhir dari tes tersebut bahwa ia memiliki hubungan darah dengan Avisha.
Dikto terpaku, ia mengunci pandangannya, jantungnya seolah berdetak lebih lambat. Semua kenangan perilaku jahat itu muncul di otaknya, ia sungguh ingin menghilang jika seperti ini.
Dia benar-benar takut akan semua dosa yang selama ini ia perbuat, ini membuatnya semakin ciut dan enggan mendengar nama Avisha.
"Pah!" Ihza mengguncang kedua bahu Ayahnya itu
"Apa ini benar?" tanyanya dengan mata yang menatap kosong ke arah depan
"Iya Pah benar, ini berdasarkan hasil tes DNA kalian berdua," ujar Ihza dengan semangat, ia memeluk kembali tubuh sang Ayah, "Pah ayo temui putri Papah, adik Ihza Pah!"
Tanpa terasa air mata itu meleleh dari mata Dikto, "Apa saya pantas?"
"Sangat pantas Pah!"
"Antar saya bertemu Avisha," pinta Dikto pada Ihza
Ihza mengangguk dan dengan segera mereka pergi ke rumah Avisha menggunakan mobil Ihza.
Ihza bisa melihat betapa bahagianya sang Ayah, namun Dikto juga tak berhenti menangis. Menangisi segala kesalahannya, pada saat itulah tangan kiri Ihza menggenggam erat tangan sang Ayah, dan memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sesampainya mereka di rumah Avisha, Ihza langsung mengetuk pintu dan menunggu seseorang yang akan membukakan pintu untuknya.
Disisi lain Dikto masih saja beradu pada pikirannya, ia terus menduga hal-hal yang ia takuti, namun beberapa kali juga Ihza menenangkan sang Ayah agar tenang.
"Ya, siap-" saat pintu terbuka Shinta terpaku dengan sosok Dikto yang berdiri di samping Ihza, jika Ihza datang kesini sudah biasa dan begitu mengejutkannya seorang Dikto datang kesini.
"Mah, Avisha ada?" tanya Ihza
"Ad-ada," jawabnya tergagu
"Sayang, siapa yang dat-" Ahdi yang mendekat pun ikut terkejut melihat sosok Dikto berdiri di depan rumah.
"Boleh saya bertemu Avisha?" tanya Dikto, wajahnya sudah lesu dan matanya benar-benar merah
"Boleh, silahkan masuk!" ujar Shinta
Mereka masuk, dan Ihza langsung memberikan hasil tes DNA itu kepada Shinta dan Ahdi, mereka pun ikut senang dengan hasil tes tersebut.
"Saya benar-benar minta maaf, tolong maafkan saya!" mohon Dikto pada Shinta dan Ahdi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Novela JuvenilKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)