Kenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan.
Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Avisha celingukan mencari keberadaan Anya yang entah di mana, sekolah lain sudah datang untuk mengikuti lomba hari ini, dan jadwal lomba hari ini adalah LCC, baca puisi, cipta cerpen, dan drama. Sedangkan Avisha tidak minat sama sekali untuk menyaksikan lomba tersebut, karena itu bukan passionnya.
"Dorrr!"
"Nggak kaget," ujar Avisha dengan malas, lalu ia memutar tubuhnya dan melihat seseorang yang telah menepuk pundaknya sangat keras.
"Pura-pura kaget gitu, bikin gue malu aja lu!" ujar Anya sembari menggaruk tengkuknya
Avisha menghela nafas panjang, kini ia melirik kelas sebelas IPA dua yang digunakan untuk lomba LCC Alano.
"Sabar kali Mbak, ngebet banget pengen ketemu!" ujar Anya seakan tahu apa pikiran Avisha
"Gue sabar kok, cuma kangen aja!"
"Sama aja!" lirih Anya, "udah yuk ah kita mejeng ke kantin."
Avisha mengangguk, mengikuti langkah Anya yang membawanya menuju kantin, sepanjang perjalanan mereka berbincang mengenai rencana liburan Anya yang bisa dibilang mengesankan.
Yah, Anya akan berangkat seminggu setelah lomba selesai, dan akan membelikan banyak oleh-oleh untuk Avisha, itu yang Avisha harapkan.
Kini langkah mereka melewati kamar mandi perempuan, namun langkah mereka terhenti ketika mendengar isakkan tangis yang sangat begitu jelas. Avisha begidik ngeri, banyak orang yang fokus dengan lomba dan melewati toilet begitu saja, tapi setan apa yang menangis begitu keras seperti ini.
Avisha menggenggam erat tangan kanan Anya, "jurik Nya, gue hitung sampe tiga nanti kita lari bareng-bareng ya!" lirihnya dengan wajah yang sangat cemas
Anya melepas tangan Avisha yang menggenggam erat, "lo nggak bisa bedain suara tangis setan sama manusia?"
"Lo bisa bedain?" tanya Avisha dengan lugu
Anya memutar bola matanya malas, kok bisa temannya jadi lurusan seperti ini, padahal bisa di bilang suara isakkan tangis itu sangat jelas suara manusia, "kita liat!"
"Nggak! Lo aja sana, gue nggak mau mati muda!"
"Siapa yang mati sih, ikut gue!" sergah Anya, bahkan kini ia menarik paksa lengan Avisha meski beberapa kali ia berontak
Laganya saja berani membunuh kecoa, tapi sama setan yang belum tentu benar saja takut.
Pintu kamar mandi tak terkunci, dengan mudah Anya membuka pintu tersebut, namun saat pintu di buka mereka menyaksikan seseorang perempuan yang duduk sembari memeluk lututnya, air matanya berderai.
"Aril?" seru Avisha, segera ia mendekat dan membantu Ariala berdiri
"Lo kenapa? Lo sakit? Lo abis di bully? Lo disakitin siapa Aril ko bibir lo berdarah?" tanya Avisha panjang lebar