Bagian 9|| Sebuah Rencana

893 70 5
                                        

🦄🦄🦄

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🦄🦄🦄


Avisha tersenyum tipis saat melihat lelaki itu tengah berdiri tegak, menatap lapangan sekolah. Ia sedang melamun.

"Hai!" Avisha menepuk keras tangan kanan Alano

Alano tersenyum tipis, ia sedikit mengacak poni Avisha, "Kamu semalem kemana? Kok chat ku nggak di bales?"

Avisha membelalakkan matanya, "oh ya?" Ia meraih ponsel yang berada di dalam tas.

Oh ya benar. Ada nama Alano di room chat miliknya, tapi tunggu ada 12 nomor tanpa nama siapa dia? Bagaimana dia tahu ini nomornya? Tidak ada profil dan nama pengguna, hanya ada titik di nama pengguna sedangkan info dibiarkan kosong.

"Sa? Ada yang salah?" Tanya Alano

"Eh enggak," ucap Avisha cepat, ia terbangun dari lamunannya akan nomor tak dikenal, "Jadi semalem aku ketiduran, sorry ya!"

"Oh iya." Alano menyandarkan kepalanya di samping tembok kelas Avisha, "weekend ini kamu sibuk?"

"Nggak kenapa?"

"Mau ikut nggak?" Alano melipat kedua tangannya didepan dada bidangnya

"Ke?"

"Kita liburan." Alano menyunggingkan senyum di bibirnya

"Mau mau! Kemana?" ucap Avisha sumringah, rasanya seperti mimpi ia baru saja diajak pergi berlibur oleh Alano, meski bukan libur panjang ini hanya libur akhir pekan.

"Enaknya kemana?"

"Eumm." Avisha tampak berfikir, namun ketika ia baru saja membuka mulut tiba-tiba ada dua sosok yang datang menghampiri mereka

"Apisaaa!" Revan, dia datang berdampingan dengan Syila. Cukup, Avisha tak ingin lagi merasakan sakit ia bertingkah seolah baik-baik saja.

"Paan si ganggu aja lo!" cetus Avisha pada Revan yang tiba-tiba datang

"Lo mau liburan? Jahat banget gue nggak diajak, gue ikut boleh kan?"

"Paan si, ini liburan khusus gue sama Nano!" Jelas Avisha

"Gue ikut, sama Syila Mames nanti gue ajak, sekalian ajak sahabat lo Anya?" Revan tersenyum sumringah, ia menatap kekasihnya Syila sejenak yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka. "Boleh kan?"

"Nggak!" cetus Avisha

"Eh orang gue nanya ama si Nano nano, enak rasanya, haha." Revan menaruh tangan kanannya pada pundak Alano, yang kini jika dipandang ia tampak risi, "gimana?"

"Kita obrolin nanti." Alano menepis tangan Revan, ia berlalu tanpa permisi dengan muka setengah kesal

"Eh kenapa nggak sekarang aja woi!" teriak Revan saat punggung Alano mulai menjauh, "nggak waras tu bocah, jangan ama dia lah Sa!"

Persahabatan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang