Avisha telah menerima semua yang terjadi dalam hidupnya, kini ia menjadi lebih bersyukur atas apa yang Tuhan beri di setiap detik di hidupnya.
Dulu, ia sangat membenci setiap momen menyakitkan yang terus membekas di setiap detik di hidupnya, yang membuatnya enggan peduli atau bahkan mendengarnya saja membuatnya muak.
Avisha kini menjadi lebih dekat dengan siapapun, ia juga mengobrol lebih banyak dengan Ahdi dan ia juga mencoba menunjukkan dirinya kepada Dikto yang baru saja mengakuinya sebagai anak. Ia senang, ia masih di beri kesempatan oleh Tuhan untuk mengetahui segala permasalahan dan juga kesempatan untuk menyelesaikan.
Hari-hari terus berlalu, seminggu sejak Ujian selesai murid-murid berangkat hanya untuk bermain karena tidak ada mata pelajaran yang diajarkan, mereka menunggu hasil kenaikan dan bahkan kelulusan. Oh ya, semalam Avisha membicarakan mengenai kuliahnya dan ia memutuskan untuk mengambil jurusan manajemen bisnis dengan alasan ia ingin melanjutkan bisnis Ibunya yang sempat bangkrut, hal ini sudah ia bicarakan bersama keluarganya.
Avisha mengamati di setiap sudut kelas yang akan menjadi kenangan ini, ia melirik meja dan kursi yang dulu pernah menjadi saksi persahabatannya bersama Anya, mungkin kursi ini akan ingat bagaimana hebohnya mereka berdua ketika sedang jam kosong. Ngomong-ngomong soal Anya, dia sudah lama tak ada kabar, bahkan setelah ia mengatakan sendiri bahwa ia akan membalas pesan yang Avisha kirim. Sibuk ataupun itu, entahlah bukannya ia berjanji akan datang ke Jakarta? Kalau begitu Avisha akan menunggunya, walau tanpa kabar seperti ini.
Avisha merasa matanya sangat berat, apakah ini efek semalam dirinya banyak menghabiskan waktu bersama Ahdi dan Shinta? Entahlah, kini ia merebahkan kepalanya di atas meja dan berharap bisa meredakan rasa kantuknya.
Dugh
"Sa!"
Suara pukulan meja dan panggilan nama itu sukses membuat Avisha terperanjat kaget, ia mengelus dadanya yang bergemuruh. Bagaimana tidak? Ia hampir saja terlelap.
"Kenapa si Ri?"
"Ada Bisma tuh di depan," ujar Nuri, "Lagian lo masih pagi udah ngantuk aja."
Avisha mengusak matanya, "Ngapain sih Mames," keluhnya
"Hah? Siapa Mames?" tanya Nuri
"Ah bukan siapa-siapa kok, btw thanks ya?!"
"Oke."
Avisha melangkah dengan malas, memandang punggung Bisma yang tengah berdiri membelakanginya.
"Kenapa si?"
Bisma menoleh, "Lo bego apa bagaimana? Lo punya HP kan? Tau kan fungsinya buat apa?" omel Bisma
"Lo kenapa sih dateng-dateng langsung ngomel? Punya utang gue sama lo?" jawab Avisha dengan emosinya
"Ya gue nanya," balas Bisma tak kalah emosi
"Ya lo pikir dua puluh empat jam gue cuma buat HP gitu?"
"Revan mau berangkat Sa."
"Hah?"
"Semalem dia hubungin lo buat dateng ke rumahnya tapi lo sama sekali nggak bisa di hubungi."
"Semalem gue ngobrol sama Ayah, HP gue lowbat bahkan sekarang gue nggak bawa HP karena masih di charge," ujarnya dengan cemas, "lagian lo juga nggak dateng ke rumah gue?!"
"Gue nggak dirumah!" tegas Bisma, "Mending lo samperin dia Sa, tolong kurangi egois lo buat hari ini aja."
"Tapi gue-"
"Sa, dia mau berangkat besok."
"Bis, temenin gue ya?!"
"Gue ada perlu Sa, gue udah bilang sama lo. Kurangi ego lo hari ini aja, ini kesempatan yang lo punya buat ngobrol banyak sama Revan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Persahabatan [END]
Teen FictionKenangan buruk seseorang bukanlah suatu keinginan, melainkan suatu kejadian yang hadir tak terelakkan. Tak banyak mereka melupakan atau bahkan sebagian dari mereka mungkin berusaha melupakan meski kejadian itu terus membekas setiap detik di hidupny...
![Persahabatan [END]](https://img.wattpad.com/cover/223159335-64-k863735.jpg)