"Sayang, bangun. Sarapan dulu." Fares menghela napas karena usahanya sedari tadi untuk membangunkan istrinya tak berhasil. Nana memang kebo kalau soal tidur, tapi tidak pernah sekebo ini.
Fares menurunkan selimut yang menutupi kepala Nana sampai bahu polos wanita itu. Fares terkekeh pelan, mengingat keduanya telah melakukan olahraga ranjang semalam.
Tak menyerah, Fares yang semula duduk di tepi ranjang, merangkak ke tengah dan menundukan kepalanya.
Cup.
"Bangun, Bona." Fares mencium pipi Bona, namun sang empu masih asyik dengan alam mimpinya.
Lalu Fares mencium seluruh wajah Nana sampai kening Nana berkerut dan matanya perlahan membuka.
"Apasih! Kamu ganggu banget, orang masih pagi!" Nana berdecak lalu kembali menutup matanya, matanya masih benar-benar mengantuk.
"Sarapan dulu. Emang kamu ngga laper apa?" tanya Fares lalu kemudian mencubit kecil hidung Nana sehingga mata Nana membuka sempurna karena merasa sesak.
"Kamu sarapan duluan aja, aku masih ngantuk, kepala aku juga agak pusing Res."
Wajah Fares tiba-tiba berubah panik. "Kamu sakit?" lalu menempelken punggung tangannya di kening Nana, "tapi kamu ngga demam."
"Ngga. Cuma agak pusing aja, jadi aku pengen tidur lagi bentaran. Ya?"
Pada akhirnya Fares mengangguk karena tak tega pada. Mungkin Nana butuh istirahat, pikirnya.
Fares memutuskan keluar kamar dan menuruni lantai bawah yang mana Izel tengah sibuk membuat kue. Sedangkan Andra tentu mertuanya itu sudah berangkat kerja dari pagi tadi. Sedangkan adik iparnya Jino, sudah berangkat sekolah.
"Kamu ngga kuliah hari ini Res?" tanya Izel saat melihat Fares membuka kulkas dan mengambil botol minum dan meneguknya.
"Paling ngasih skripsi ke dosen pembimbing bun," Izel hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Yaudah kamu sarapan dulu. Nana nya mana? Kok belum keliatan turun?"
"Dia masih pengen tidur katanya bun, capek."
"Akhir-akhir ini dia emang suka tidur, Res. Apa dia sering begadang pas malemnya?"
"Em, kadang-kadang sih bun, ngga sering juga." jawab Fares sambil menggaruk tengkuknya, maksud kadang-kadangnya tadi memang benar, karena Fares dan Nana sesekali begadang untuk olahraga malamnya.
Walaupun pernikahannya telah menginjak satu tahun, tapi Fares tak pernah absen untuk menggempur istrinya sampai benar-benar lelah dan seringkali membuat Nana kewalahan.
"Kamu sarapan duluan aja kalo gitu, kan Nana ngga tau bangunnya kapan."
Fares hanya mengangguk dan mengambil dua gepok roti yang didalamnya berisi selai dan chessee dan langsung memakannya sambil duduk di meja makan.
Izel ikut duduk di sebrang Fares saat kue yang dibuatnya baru saja dimasukkan ke dalam oven.
"Katanya kalian nunda punya anak, bener Res?"
Di sela kunyahannya Fares mengangguk.
Izel menghela napas, "padahal bunda pengen banget liat anak kalian, yang nantinya bakal bunda urusin juga."
Fares mempercepat acara sarapannya lalu mengelap bibirnya dengan tisu. "Fares sama Bona emang sepakat buat nunda karena kita sama-sama masih kuliah juga bun. Fares juga ngga mau kalau sampe Bona hamil di waktu dia lagi dipusingin sama yang namanya skripsi, dan Fares takut malah nantinya Bona ngga fokus kuliah."
KAMU SEDANG MEMBACA
BONANZA [Completed]
Novela Juvenil[FOLLOW DULU, BEBERAPA PART DI PRIVATE] Family Series : 2nd Disarankan membaca cerita GRIZELLE terlebih dahulu. -- Bonanza Dandil Dimitri, anak sulung dari pasangan Gavandra Adilhaq Dimitri dan Grizelle Danisya Roger yang merupakan gadis pemberontak...
![BONANZA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/244782790-64-k902812.jpg)