Part 56

23.2K 1.4K 457
                                        

Nana bersenandung senang saat menuruni tangga untuk berangkat ke sekolahnya. Apalagi di meja makan terdapat ayah, bunda, dan adik kutu kupretnya, Jino.

"Ada yang lagi seneng nih kayaknya." goda Izel yang sedang mengambilkan sepiring makanan untuk Andra juga Jino.

"Siapa bun?" tanya Nana pura-pura bodoh.

"Anak bagong." bukan Izel yang menjawab, melainkan Jino yang dengan santai sambil mengunyah makanan.

"Apa lo bilang? Ngga sopan ngatain gue anak bagong!"

"Emang gue bilang itu elo? Ngga kan?"

Ya bener sih.

"Udah ah ribut melulu. Bisa ngga kalian tenang aja makannya? Nih kak," Izel menyodorkan piring yang berisi nasi juga lauk pada Nana yang langsung diterimanya.

Nana menyenggol pelan lengan Jino hingga membuat sang empu berdecak kesal karena merasa terganggu.

"Dek, udah tau belom ada yang lagi bucin tau sekarang."

Jino melirik Nana, "lo? Ya emang lo udah bucin dari dulu kan?"

Astaga, Jino memang sering membuat Nana gregetan.

"Maksudnya dua sejoli yang ada di depan kita." tatapan Jino beralih ke kedua orangtuanya yang sedang pura-pura asik makan. Namun tiba-tiba Andra tersenyum, "ya gimana ya, ayah sama bunda tuh emang pasangan fenomenal pada zamannya. Jadi mesra dikit aja dibilang bucin. Ya kan bunda sayang?"

Mata Izel membelalak disertai pipinya yang juga ikut merona. Nana maupun Jino tak pernah melihat Izel bisa semalu-malu ini.

"Ap-apasih lo!" jawab Izel galak.

"Sssttt ngga boleh manggil pake gue-lo lagi ah, aku-kamu aja kaya pas dirumah sakit kemaren."

Nana terkekeh lucu, sedangkan Jino hanya mengernyit bingung dengan tatapan datarnya.

"Mereka mau rujuk, de. Seneng ngga lo?" bisik Nana ditelinga Jino yang membuat Jino terkejut.

"Bener kalian mau rujuk?" kini Jino memperhatikan Izel dan Andra bergantian menunggu jawaban.

Pasalnya Jino memang sedikit heran karena sikap bundanya tiba-tiba melembut pada Andra yang baru Jino tau kalau ayahnya itu telah tertembak oleh seseorang, saat Jino baru pulang dari markas gengnya.

"Iya, kenapa emangnya dek?" Andra kembali bertanya karena raut wajah Jino nampak tak senang.

"Ngga papa. Jino ngga mau ya kalo sampe ayah nyakitin bunda."

"Astaga boy, kamu ngga perlu khawatir, mana mungkin ayah nyakitin bunda kamu."

Jino mengangguk,"kalo sampe itu terjadi, Jino ngga akan biarin bunda buat ketemu ayah lagi."

Izel dan Andra saling berpandangan lalu keduanya tersenyum, "kecebong aku emang berkualitas kan sayang?" bisik Andra dengan nada sensual di telinga Izel.

"Dek, gue nebeng lo ya?" ucap Nana saat telah selesai makan.

"Ogah! Gue telat ntar kalo harus nganterin lo dulu kak."

Saat akan kembali menyela, Jino menyeringai tipis, "lagian pacar lo udah jemput didepan. Mau lo anggurin emang?"

Mata Nana melebar sempurna, "maksudnya?"

"Astaga, kamu lupa sama pacar sendiri kak?" tanya Andra heran karena melihat wajah Nana yang seperti kebingungan sendiri.

"Emm ngga yah, Nana inget kok. Cuma Nana ngga tau kalo kak Gio mau jemput hari ini."

BONANZA [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang