| 13-1-2021 |
| 27-12-2021 |
***
Sudah lebih dari tiga jam Kyra berada di Paviliun Mawar. Ia menghabiskan waktu berbincang panjang bersama Ibu Suri dan Selir Athi.
Sepanjang percakapan, Kyra dihujani berbagai pertanyaan aneh dan tak terduga dari kedua wanita itu. Mereka tampak sangat penasaran akan kehidupan Kyra, bahkan mereka sempat menanyakan ...
"Apa Ki'er memiliki kekasih disana?"
"Apa Ki'er hidup mewah?! Pasti Ki'er menjadi ratu dikehidupan sebelumnya, kan?!"
"Apa?! ... Memburu orang? T-tidakah itu mengerikan? Aha~Ahaha ..."
"Ki'er tidakkah dirimu ingin memiliki anak?"
"Haa ... Tidak ingin menikah? Pasti ada yang diam-diam menaruh hati pada Ki'er."
"Letnan Rey, ya? Jadi dia satu-satunya teman masa kecil Ki'er ..."
Setiap kali mereka berekspresi tercengang, terbelalak, atau terkejut berlebihan, Kyra tertawa lepas tanpa beban. Ia bahkan melupakan sikap dinginnya seolah satu penghalang berhasil dihancurkan, tapi Kyra tidak masalah. Justru Kyra merasa senang memiliki tempat untuk berbagi. Ia tidak berniat menyembunyikan apa pun. Lagi pula, ia tidak pandai berbohong, sementara kedua wanita itu cukup bijak untuk dipercaya.
Ternyata memiliki emosi tidak seburuk itu, bahkan Kyra tidak tahu sudah berapa kali dirinya tertawa hari ini. Dia bercerita dengan semangat menggebu. Namun, ada satu topik yang membuatnya terdiam—keluarga.
Begitu pembicaraan menyentuh tentang hal itu, Kyra spontan berwajah tegang dan nyaris kehilangan darah diwajahnya.
Keheningan tiba-tiba melingkupi paviliun.
Ibu Suri dan Selir Athi saling melempar pandang, samar-samar kekhawatiran terpancar di mata mereka. Mereka bisa membaca betapa dalam luka yang disimpan oleh gadis di hadapan mereka—luka yang terlalu gelap untuk disentuh. Maka tanpa sepatah kata pun, mereka memilih diam. Tidak ada lagi pertanyaan, tidak ada lagi desakan.
Dan Kyra pun bersyukur akan kepekaan itu.
Kyra sempat merenung cukup lama ... Ingatan-ingatan kelam yang selama ini ia pendam mulai merayap ke permukaan.
Keluarga, ya?
Ia hanya memiliki seorang Ibu dan kakak laki-laki di kehidupan sebelumnya, mereka orang yang paling Kyra sayangi melebihi nyawanya sendiri. Namun, suatu tragedi kelam tentang hujan dan darah membuatnya trauma seumur hidup.
Kyra selalu teringat hari dimana hujan begitu lebat dan menghapus noda darah yang terjatuh dari ketinggian, samar-samar ia melihat dua tubuh tidak bernyawa yang tertancap di tiang besi setinggi dua meter dalam kondisi mengerikan. Emosi Kyra campur aduk setiap kali bayangan itu terlintas, Kyra membencinya, sangat-sangat membencinya melebihi apapun di dunia ini.
Dari sanalah, dunia menyebut Kyra 'Monster'
Hari di mana untuk pertama kalinya Kyra merasakan kesenangan saat menghabisi ratusan nyawa dengan tangan mungilnya sendiri.
Namun, saat itu Kyra hanyalah anak kecil yang belum mengerti betapa kejamnya dunia, sebelum akhirnya 'mereka' datang ... merenggut semuanya dari Kyra ... dan terjadilah pembantaian. Meski Kyra kecil dikepung ratusan bahkan ribuan manusia-manusia menjijikan itu, dirinya tidak gentar karena emosi telah mengambil alih akal sehatnya, dia mencabik, dia mencongkel, dia memelintir ratusan kepala dan memisahkannya dari badan, dia juga mengeluarkan usus mereka tanpa—
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍
FantasyDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Sang Jenderal perang yang menghancurkan kota demi kota demi menanamkan rasa takut bagi musuh...
