Tgl pubh:_12-11-2020
Re-pubh:_01-11-2021
Typo bertebaran!!
Terdapat kata-kata kasar, harap bijak dalam membaca!👻
•
•
_____________________ _ _
🌹🌹🌹
"Istana pernah merasa aman dalam kebusukan, tapi sejak dia datang---kemunafikan pun mulai ketakutan."
_Author Ell_
🌹🌹🌹
_ _ _______________________
•
•
・:*:・゚★,。・:*:・゚☆
Di dalam sebuah ruangan gelap dan lembap serta berbau apek seperti ruangan mayat yang lama tak disentuh manusia terbaring lah seorang gadis remaja dengan wajah pucat dan tubuh membiru. Seorang tabib tua tengah menekan pergelangan tangan gadis itu sambil mengerutkan dahi, sedangkan di sampingnya seorang gadis pelayan tengah duduk gemetar sambil menggigit bibir hingga berdarah.
Tabib itu menarik napas panjang. "Kondisi Yang Mulia putri sangatlah buruk, denyut nadinya hampir tak terasa, nona. Kita hanya tinggal menunggu." Suaranya berat, seolah kata-kata itu menyedot sisa harapan dari udara.
Seketika mata dayang itu---Xia Mei, melebar sempurna.
"M-menunggu?" Dayang Xia Mei tercekat. "Putri ... dia belum mati! Masih ada waktu, tolong selamatkan putri!!"
Tabib tua menggeleng pelan. "Tabib ini hanya memiliki kemampuan sebatas ini, sisanya kita serahkan pada takdir."
"Cobalah sekali lagi!" pinta dayang Xia Mei dengan air mata yang terus berjatuhan. Namun tabib itu hanya menunduk.
Dayang Xia Mei menggertakkan giginya, ia berbalik dan mengguncang tubuh junjungannya berkali-kali dengan tangan gemetar. "Kumohon putri! Bangunlah..."
Dayang Xia Mei harap junjungannya akan terbangun dari mimpi panjangnya dan bisa tersenyum lagi seperti biasa. Namun, saat tangannya bersentuhan dengan kulit junjungannya itu seketika tubuh Xia Mei menegang.
'Ini ... Ini beku!' Dayang Xia Mei tidak sepenuhnya yakin, tapi jemarinya yang gemetar itu perlahan terulur kebawah hidung junjungannya.
Xia Mei menunggu.
Menunggu satu hembusan nafas yang menyentuh kulitnya. Menunggu satu tanda kehidupan. Namun kenapa yang kali ini ...
.... tidak ada?
"P-putri?" Jantung Xia Mei seakan berhenti berdetak.
"Dewi Kematian sudah menjemputnya," titur sang Tabib.
"Tidak ... Tidak ... Tidak ... Kumohon ..." Tangis dayang Xia Mei pecah semakin dalam. Ia meraih tangan junjungannya dan menggenggamnya erat. Sosok yang selama ini ia lindungi dengan nyawa kini terbaring tanpa napas? Xia Mei menggeleng berkali-kali, ia tidak menerimanya takdir semacam ini.
Xia Mei hanya punya junjungannya.
Kenapa langit harus merenggut satu-satunya orang yang tersisa dalam hidupnya?!
Sedangkan tabib tua itu hanya bisa turut prihatin atas kematian gadis malang itu. Tidak berselang lama, ia keluar dari ruangan lalu melambaikan tangan kepada salah satu prajurit yang kebetulan lewat. Saat prajurit itu sudah ada di hadapannya, ia membisik pelan namun suaranya dingin seperti embun pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑻𝑰𝑴𝑬 𝑻𝑹𝑨𝑽𝑬𝑳 : 𝑂𝑓 𝑎 𝐶𝑜𝑙𝑑-𝐻𝑒𝑎𝑟𝑡𝑒𝑑 𝑊𝑜𝑚𝑎𝑛
FantasySaat dunia diambang kehancuran dan keadilan tak lagi bertaring, manusia tak lagi memohon kedatangan malaikat. Mereka mengharapkan iblis penegak keadilan. ༒︎ JENDERAL KYRA ༒︎ Jangan terkecoh oleh paras cantik dan seringai tipis dibibirnya, sebab di...
