----
☘☲☘☲☘☲☘☲☘
"Dia ..."
"... Terlalu cantik."
Suasana di dalam ruang makan membeku seketika. Para pangeran yang semula duduk santai kini menegang. Para selir saling memandang dengan raut tak percaya bahkan Permaisuri Liu Wei pun tanpa sadar menegakkan duduknya.
"Bukan seperti cantik yang sering kalian lihat di lukisan istana atau nyanyian para penyair," lanjut gadis itu pelan, nadanya serius. "Tapi jenis kecantikan yang akan membuat kalian terdiam. Membuat kalian lupa bagaimana caranya bicara, bahkan bernafas." Putri Sasimi menatap meja seolah melihat kembali bayang-bayang Kyra dalam ingatannya.
"Dia seperti lukisan yang terlalu hidup, tapi dingin. Sorot matanya tidak ada kelembutan dan tatapannya ... bisa menembus siapa pun yang berani memandang balik. Kulitnya pucat bersih, tak ada cela. Alisnya tajam seperti lukisan pena tinta di atas sutra putih."
Pangeran Ketiga tersenyum getir, kemudian berbisik pelan. "Kau sedang menggambarkan seorang dewi."
Putri Sasimi menggeleng perlahan. "Tidak. Sosok dewi masih terlalu ramah. Dia lebih seperti ratu penguasa di medan perang. Seindah itu ... Tapi tidak bisa didekati. Mungkin jika kalian mendekatinya kalian akan langsung di banasakan."
Para pangeran saling pandang, beberapa dari mereka bahkan merasa dadanya berdebar aneh hanya karena mendengar itu. Sebagian selir berusaha menyangkal, menganggap bahwa Putri Sasimi berlebihan tapi dilihat dari bagaimana pun ekspresi wajahnya terlalu jujur untuk disebut bohong.
"Putri ini tahu," jeda putri Sasimi, kali ini dengan suara rendah namun penuh penekanan. "... Jika gadis itu hadir di acara perjamuan kerajaan, tidak akan ada satu pun dari kalian yang mampu berpaling darinya."
"Bahkan jika wajahnya hanya muncul satu detik," tambahnya dengan senyum kecil yang agak getir. "Itu akan cukup untuk menghapus semua wajah gadis bangsawan yang pernah kalian lihat sebelumnya."
Hening.
Lalu, suara kursi bergeser.
Pangeran Mahkota berdiri, langkahnya tenang namun penuh ketegasan mengitari meja makan lalu duduk disebelah kursi kosong disamping putri Sasimi. Tubuhnya tidak mengarah ke meja makan melainkan menghadap penuh kearah adik bungsunya itu.
"Mi'er," ucap pangeran Mahkota dengan nada berat. "Gadis itu, kau yakin berasal dari Kerajaan Qiang?"
Putri Sasimi mengkerut. Padahal dia tidak pernah bilang kalau gadis itu berasal dari kerajaan Qiang, kenapa gegenya malah menyimpulkannya begitu?
Permaisuri Liu Wei menggenggam tangan Kaisar Chen, lirih berkata, "apakah mungkin?"
Kaisar Chen menyipitkan mata, menatap lurus seolah mampu menembus tembok istana. "Gadis itu mungkin bertindak atas perintah kerajaan Qiang, tapi kemungkinan lain dia hanyalah individualis yang kebetulan ada ditempat kejadian. Jadi belum dapat disimpulkan apakah dia orang yang bergerak dibalik layar."
Ruangan kembali hening.
"Putri ini sangat berharap dia bisa menjadi Jiejie putri ini," gumam Putri Sasimi lirih, pandangannya menatap langit-langit ruangan seolah mencari jawaban. Wajahnya yang ceria kini memudar digantikan sorot sendu dan kecewa. Di dalam hatinya, Kyra jauh lebih pantas menyandang gelar kakak dibanding para Jiejie yang hanya tahu membenci.
Kaisar, Permaisuri, dan para pangeran tak kuasa menyembunyikan rasa iba. Si gadis periang itu kini murung dan itu lebih menyakitkan daripada tangisan.
Permaisuri Liu Wei menggenggam tangan putrinya sembari tersenyum hangat. "Kalau begitu, Mi'er ... Ibunda akan berusaha. Mungkin suatu hari nanti gadis itu benar-benar bisa menjadi Jiejie-mu."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍
FantasiaDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Sang Jenderal perang yang menghancurkan kota demi kota demi menanamkan rasa takut bagi musuh...
