5. Ibu kota Lixan

62.1K 6.6K 224
                                        

Publish: 08-12-2020
Re-publish: 03-11-2021

_____________________ _ _

⚜️⚜️⚜️

"Setiap orang bisa bersembunyi di balik jabatan tapi tidak semua berani berdiri di sisi yang benar."

__Athi__

⚜️⚜️⚜️
_ _ _______________________


****

DI AULA UTAMA ISTANA

"Bagaimana ini, Yang Mulia? Apakah kita hanya akan diam menyaksikan Putri Ketiga merana seorang diri? Setidaknya bersyukurlah, Yang Mulia, karena putri ketiga masih bernapas." Suara tegas dan berwibawa itu menggema di seluruh aula, milik Selir Athi, wanita yang tak pernah takut berkata jujur meski harus berhadapan langsung dengan Kaisar Li Quan.

Namun, seperti biasa kata-katanya tak lebih dari hembusan angin yang tak dihiraukan.

"Selir Athi, untuk apa kau repot-repot mengkhawatirkan putri ketiga?" Suara sinis Selir Annchi mengiris suasana. "Kaisar saja tak peduli. Apa hakmu yang merupakan orang asing bagi Putri Ketiga untuk campur tangan?"

Tatapan tajam Selir Athi mengarah langsung ke lawannya. Ia menjawab tanpa gentar. "Karena selir ini masih punya hati, dan empati bukanlah kelemahan melainkan kemanusiaan. Bahkan sebagai seorang ibu, selir ini tak sampai hati melihat anak siapapun itu dibiarkan menderita seperti hewan buangan."

Ucapan itu bagai tamparan keras bukan hanya bagi Selir Annchi tapi juga bagi Kaisar Li Quan yang duduk di singgasananya. Namun, ekspresi sang Kaisar tetap dingin seolah dunia luar tak mampu menyentuhnya.

Suasana aula menjadi panas dan pengap penuh ketegangan. Adu argumen terus berlanjut antara Selir Athi dan Selir Annchi. Sesekali Permaisuri Liu Mei menyelipkan komentar halus yang justru memperkeruh suasana, dengan senyuman palsu yang sudah sangat dikenali Selir Athi.

"Selir Athi, bukankah mengurung diri itu justru bukti bijak dari putri ketiga? Ia memilih menjauh agar kita semua tidak tertular penyakitnya itu," ucap Permaisuri manis-manis, seolah peduli.

Kaisar Li Quan hanya berdeham pelan, menyetujui tanpa banyak bicara. Selir Athi merasakan darahnya mendidih.

"Sudah tiga minggu tak ada kabar membaik darinya bahkan selir ini pun dilarang mencarikan tabib. Jika bukan kita yang peduli, siapa lagi? Tak bisakah Yang Mulia menunjukkan sedikit kepedulian sebagai seorang ayah?"

"Untuk apa? Agar tertular penyakitnya itu? Dan bukankah dia tidak ingin diganggu? Anak pembawa sial sepertinya sudah sadar diri ternyata." ucap Kaisar Li quan dengan dingin.

Selir Athi membeku. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah datarnya itu tersimpan amarah mendidih. Selir Athi menghela nafas sejenak, kemudian membatin. 'Berteriak kepada orang tuli sama saja dengan sia-sia, ya?'  Baiklah, maka cukup sampai di sini.

Jika Kaisar menutup mata, maka  selir Athi akan membuka jalannya sendiri. Jika dirinya tidak bisa menjaga putri ketiga secara terang-terangan maka ia akan melindunginya dalam diam, seperti yang biasa ia lakukan.

"Selir ini pamit undur diri. Semoga Yang Mulia dianugerahi umur panjang, untuk menyaksikan siapa yang benar-benar setia nantinya." Dengan anggun dan penuh sikap ia membalikkan tubuh meninggalkan aula, juga meninggalkan sindiran keras yang terlalu sering ia lontarkan kepada sang Kaisar.

Sementara itu, di balik kepergiannya nampak dua wanita lain saling bertukar lirikan puas. Mereka belum tahu bahwa wanita yang baru saja pergi adalah satu-satunya lawan yang akan menghancurkan seluruh rencana kotor mereka ... dalam diam.

𝑻𝑰𝑴𝑬 𝑻𝑹𝑨𝑽𝑬𝑳 : 𝑂𝑓 𝑎 𝐶𝑜𝑙𝑑-𝐻𝑒𝑎𝑟𝑡𝑒𝑑 𝑊𝑜𝑚𝑎𝑛Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang