Lahat, Sumsel ------
_____________________ _ _
🌹🌹🌹
"Aku tak butuh pengakuan dari orang-orang yang menyembah kekuasaan lebih dari kebenaran."
_ Jenderal Kyra _
🌹🌹🌹
_ _ _______________________
***
Kyra kini telah kembali ke Paviliun Dingin. Hanfu pria yang tadi ia kenakan telah berganti menjadi hanfu wanita berwarna merah darah. Rambut hitamnya yang panjang telah disanggul tinggi, dihiasi daun-daun emas yang dirangkainya sendiri membentuk tusuk konde mewah yang menyerupai Mahkota seorang ratu perang.
Perlahan ia berjalan ke arah cermin besar di sisi kamar, menatap pantulan dirinya. "Tidak lama lagi ... seluruh istana akan tahu siapa dirimu sebenarnya," gumamnya lirih dengan sorot mata penuh perhitungan.
Mingmei yang baru saja datang sontak terkejut ketika mendapati Kyra sudah kembali dari hutan, bahkan junjungannya sudah berpenampilan sangat bersih dan rapi.
"Putri?! Syukurlah Tuan putri sudah kembali. Apa ada yang terluka?" tanya Mingmei panik seraya bejalan menghampiri.
"Tenang saja Mingmei. Tak ada yang bisa melukaiku," jawab Kyra datar. Matanya tak berpaling dari cermin, seraya melanjutkan. "Selama aku pergi apa ada hal penting yang perlu kau sampaikan?"
Mingmei mengangguk ragu-ragu. "Ada ... putri. Setelah pertemuan di aula selesai putri disuruh menghadap oleh Yang Mulia Kaisar."
"Jadi Kaisar sekarang di Aula, ya," gumam Kyra. "Pertemuan tentang apa?"
Mingmei langsung terkesiap. 'Apa putri sekarang mulai tertarik dengan urusan politik?' batin Mingmei penuh raut curiga, tapi ia tetap menjawab. "Pertemuan kali ini membahas tentang pemberontakan di wilayah utara, putri, dan juga isu terkait runtuhnya sebuah organisasi penting."
Kyra mengambil cadar merah dari atas meja lalu memakainya perlahan. "Kalau begitu, aku akan pergi," ucapnya ringan sukses membuat Mingmei terbelalak.
"A-apa?! Pergi ke hutan lagi?!!" keluh Mingmei frustasi. Sebenarnya ia sudah berfirasat buruk sedari tadii.....!!
"Bukan," kata Kyra sambil menyeringai tipis. "Tapi ke acara itu."
Mingmei makin pucat ketika mendengarnya. "T-tuan putri, tidakk! Itu acara resmi istana .... Permaisuri dan ibu selir sudah ada mendampingi kaisar Li Quan dan kalau putri ikut campur semua orang pasti marah ...," paniknya berusaha mengingatkan.
"Aku tidak akan ikut campur. Aku hanya ingin melihat."
Setelah mengatakan itu, Kyra melangkah keluar dengan sikap tegas diikuti Mingmei yang terus membujuk dan membisikkan larangan. Namun Kyra tak menggubris. Ini bukan saatnya mendengar ketakutan orang lain.
Di sepanjang perjalanan menuju Aula Istana, Kyra mendengar bisikan-bisikan batin yang berasal dari para pelayan dan penjaga yang ia lewati. Lebih seperti suara bising ditengah pasar tapi bedanya yang satu ini membanjiri kepalanya tanpa henti. Kyra sempat mengernyit, lalu mengatur napas dalam-dalam mencoba menutup kemampuan membaca pikiran ini seperti yang diajarkan Suchi. Butuh konsentrasi tinggi tetapi ia akhirnya berhasil. Seketika semua kembali sunyi dan pikirannya kembali jernih.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍
FantasiaDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Dialah sang jenderal perang yang menundukkan negara demi negara, dan namanya tidak dilantunk...
