Publish: 04-12-2020
Re-publish: 02-11-2021
➮Tolong tandai typo
🥀*🥀*🥀*🥀
Mata itu terbuka perlahan. Tidak ada air mata atau kegugupan, hanya sorot mata tajam yang menyala bak bilah pedang---tatapan yang tak pernah hilang semenjak ia bangun dari kematiannya.
Kyra mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk lalu memandang datar pada dayang yang menangisinya waktu itu. Kini gadis dayang itu terlelap di lantai dingin di bawah ranjang.
Dan saat Kyra menyibak lengan hanfunya terlihatlah sebuah bukti, yaitu memar lebam kebiruan, luka cambukan yang menghitam, lalu pada kakinya terdapat lebam lain, luka lain. Jadi tubuh ini pernah dihancurkan, pernah diseret dan diinjak, bahkan dilecehkan!
Kyra berdecak seraya menatap sinis luka-luka itu.
'Inikah perlakuan yang kau terima, Azkia?' pikirnya.
Kyra belum sempat merenung lebih lama ketika rasa yang teramat menyakitkan itu muncul lagi, seakan ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk dari dalam. Kepala Kyra seperti mau meledak. Ia memegangi kepalanya sedikit terguncang dan kini tubuhnya gemetar, giginya mengatup keras menahan jeritan yang hampir lolos.
"Tu-tuan putri? Anda sudah bangun, a-ada apa? Kenapa putri kesakitan? Apa perlu nubi ini panggilkan tabib?" tanya dayang Xia Mei panik ketika melihat junjungannya seperti diambang sekarat.
"Keluar!" titah Kyra cepat lalu memejamkan mata.
"T-tapi putri, apa perlu ham---baiklah putri." Jawabnya cepat ketika melihat mata tajam Kyra. Dayang Xia Mei bergegas pergi sambil ketakutan.
Dan saat keheningan kembali menyelimuti memori itu pun muncul silih berganti bagaikan kaset yang sudah usang dan berdebu namun tetap terasa nyata dan membekas.
Kilasan pertama, seorang anak kecil berusia enam tahun diseret ketanah, tubuhnya dipukul, dilempari bongkahan batu lalu wajahnya diludahi. Beberapa pelayan mengambil air comberan kemudian menyiramnya tanpa belas kasih diiringi suara tawa penuh penghinaan, cacian, dan rintihan yang menggema. Kyra yang menyaksikan itu pun kini menggeram tertahan dalam luapan emosi tak terbendung, sangat tidak menyangka manusia di zaman ini bisa bertindak sangat kejam kepada anak sekecil itu.
Dimana keadilan?
Mata Kyra memerah. Ingatan itu terlalu menyesakkan hingga tak mampu ia cerna dengan pikiran dingin.
Lalu kilasan lainnya datang menghantam kepala Kyra seperti hujan panah di medan perang, terlalu banyak, cepat, dan menyakitkan.
Nampak seorang anak kecil berusia enam tahun sedang berjalan santai sambil menggenggam tangan ibunya, permaisuri terdahulu. Keduanya tampak begitu damai seperti lukisan keluarga yang tak tersentuh dosa dunia. Namun, kedamaian itu lenyap seketika saat dari balik pepohonan beberapa pria berpakaian hitam pekat muncul lalu mengepung mereka dengan langkah teratur seperti bayangan kematian yang tak bisa dihindari.
Salah satu dari mereka maju cepat, belatinya teracung tinggi dengan niat menusuk putri kecil itu. Namun ...
"IBUNDA!"
Permaisuri terdahulu dengan refleks menggenggam anaknya dan memeluknya erat, menukik ke arah serangan dan---crasshhh!---belati itu menancap telak di punggungnya.
Darah tumpah.
Dunia menjadi sunyi.
Putri Azkia kecil berteriak histeris dalam pelukan ibunya yang kini lututnya lemas namun tetap berusaha berdiri untuk melindungi putrinya, tapi para pria itu tidak selesai. Mereka menyeret keduanya ke arah danau buatan dan mencampakkan dua tubuh itu ke dalam air seperti bangkai yang tak layak diselamatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍
FantastikDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Sang Jenderal perang yang menghancurkan kota demi kota demi menanamkan rasa takut bagi musuh...
