10-2-2021
_____________________ _ _
🌹🌹🌹
"Mereka semua sibuk dengan teka-teki, perang, dan tahta ... hingga tak sadar, badai sesungguhnya belum bergerak. Dan dia—adalah badai misteri, yang bahkan langit pun terlalu takut untuk menuliskan namanya di awal cerita."
— Author Ell
🌹🌹🌹
_ _ _______________________
***
Pangeran Jingrai terdiam. Seolah sesuatu menghantam kesadarannya, matanya menajam menatap Kyra dari kepala hingga ujung kaki lalu berpaling ke Mingmei.
"... Putri?" gumamnya. "Dia seorang bangsawan?" Pangeran Jingrai kini mendekat, matanya menyipit curiga saat menatap punggung dingin Kyra.
Kyra tidak gentar, ia berbalik dengan gerakan penuh kendali. "Terlambat menyadari, atau kau memang tak cukup tajam?" sarkasnya. Kemudian melanjutkan,
"Aku putri ketiga di kerajaan ini jadi silahkan kau angkat kaki dan enyahlah."
Mingmei tersentak. Junjungannya baru saja mengusir seorang pangeran Mahkota dari Kerajaan Li?! Pemegang kendali tertinggi di benua Timur—tidakkah junjungannya mengetahui?! Mingmei semakin gelisah.
Sedangkan saat ini pangeran Jingrai terdiam. Namun, bukan karena takut melainkan karena mulai menyadari sesuatu. Kilasan wajah Kyra yang ia temui di hutan dan sikap yang dulu membuatnya terus teringat, kini terhubung dalam benaknya. Jadi mereka orang yang sama?
'Putri Azkia yang bangkit dari kematian, yang dikabarkan membawa badai dendam ke istana, yang membungkam putri pertama dan permaisuri, dan yang kini ... menatapku dengan mata tanpa belas kasihan.'
Mata pangeran Jingrai menajam. Ia mengingat kembali laporan-laporan tersembunyi, tentang organisasi gelap yang tiba-tiba lenyap, tentang markas pembunuh bayaran yang terbakar dalam satu malam. Juga rumor bahwa dalang dari semua itu bukanlah pasukan rahasia melainkan satu orang, satu sosok.
'Apa itu ... kau?'
Mata pangeran Jingrai menggelap, bukan karena gentar. Justru, hasrat memburunya kini tumbuh semakin kuat.
"Batalkan pertunangan itu." Kalimat itu meluncur dari bibirnya, tegas dan tajam.
Kyra mendongak pelan. Suaranya tetap dingin, namun kini ada ketegasan tajam seperti ujung pisau. "Siapa kau dengan beraninya memerintahku?"
Pangeran Jingrai mendekat. Ia condong, berbisik di sisi telinga Kyra. "Aku Pangeran Mahkota Kerajaan Li. Aku punya kuasa atas seluruh bangsawan di Benua Timur. Jika aku mau ... aku bisa buat seluruh wilayah ini milikmu, atau menjadikannya neraka kecil. Semua tergantung bagaimana kau menanggapiku."
Kyra terkekeh pelan. Tawa tipis dan menakutkan. "Lalu kau pikir aku takut pada neraka?"
Pangeran Jingrai menatap semakin tajam.
Kyra ikut mendekatkan wajahnya hingga pipi mereka nyaris bersentuhan. "Terakhir kali seseorang mencoba menyuruhku ... jantungnya kupaku di meja makan." Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan iblis.
Mingmei memucat.
"Tsk. Mingmei, ayo pergi." Suaranya ringan, namun dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Mingmei ragu, menatap pangeran Jingrai yang masih terpaku, lalu membungkuk cepat dan menyusul Kyra yang sudah berbalik masuk ke kediamannya.
Pangeran Jingrai tidak menahan. Ia hanya menatap kepergian Kyra dalam diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑻𝑰𝑴𝑬 𝑻𝑹𝑨𝑽𝑬𝑳 : 𝑂𝑓 𝑎 𝐶𝑜𝑙𝑑-𝐻𝑒𝑎𝑟𝑡𝑒𝑑 𝑊𝑜𝑚𝑎𝑛
FantasyDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Dialah sang jenderal perang yang menundukkan negara demi negara, dan namanya tidak dilantunk...
