Pubh: 7-maret-2021
Re-pubh: 30-juni-2022
_____________________ _ _
🥀🌿🥀🌿🥀🌿
"Aneh. Aku yang biasanya pandai mengendalikan diri, kenapa sering lepas kendali saat bersama dengannya?"
— Kyra
🌿🥀🌿🥀🌿🥀
_ _ _______________________
Happy reading!!
***
Sapuan angin malam membelai lembut wajah Kyra yang menatap langit malam bertabur bintang. Di atas danau, puluhan lamphion kuning melayang tenang di udara, menyatu indah dengan pantulan rembulan yang jatuh lembut di permukaan air.
Kyra duduk di atas batu besar di bibir danau, menjulurkan kaki jenjangnya yang mulai terasa pegal. Di sampingnya nampak pemuda berhanfu hitam tengah duduk dengan sikap tenang seperti biasa, misterius dan tak tersentuh. Tidak ada percakapan atau gerakan yang tidak perlu, hanya diam yang terasa menyuarakan lebih banyak dari kata.
Kyra memejamkan mata sejenak untuk mengatur ulang pikirannya. Dia ingat betul tadi ia sudah membuka ilmu pembaca pikiran dan pemuda ini jelas tidak sedang tidur, matanya bahkan tampak tajam menatap permukaan air yang tenang. Tapi sampai sekarang tidak ada suara batinan atau riak pikiran yang bisa Kyra tangkap.
Aneh.
Kyra membuka mata perlahan. Ia tahu tekniknya masih aktif. Ia juga tahu cara kerja pikirannya sendiri sangatlah akurat, tajam, dan tidak mungkin salah tapi kenapa pemuda ini seperti ruang hampa yang tidak bisa ia selami?
Kyra menoleh kesamping kanan hanya untuk memastikan--atau sekedar menatap. Pemuda ini masih pada posisi awal, duduk santai dengan satu lengan diatas lutut yang menekuk.
Lalu mata Kyra bergulir keatas .... Rambut pemuda ini pendek dan gelap pekat seperti malam tanpa bulan, tidak teratur, seperti habis diacak-acak oleh angin atau pertempuran. Ujung-ujung helainya nampak menusuk tajam ke berbagai arah memberi kesan liar dan sulit dijinakkan. Kyra mulai membandingkan nya dengan orang normal di zaman ini, laki-laki harusnya berambut panjang sebatas pinggang dan dikuncir kuda atau digerai. Tapi dia ini ... Berbeda.
Rambutnya lebih menyerupai bulu serigala yang tumbuh di musim dingin seolah mencerminkan watak penyendiri yang enggan tunduk pada aturan siapa pun, seolah mengumandangkan satu hal, aku berbeda dan aku berbahaya.
Lelaki bermata merah itu tahu jika sedari tadi Kyra terus memandang dirinya tanpa kedip. Awalnya ia hanya membiarkan, tapi saat mata itu tak kunjung berpaling ia bersuara pelan. "Tatapanmu tajam sekali, kau pikir bisa membunuhku hanya dengan itu?"
Kyra tersentak, tapi ia segera menutupinya dengan helaan napas tenang dan senyum miring. Wajahnya perlahan beralih ke arah danau.
"Kalau memang semudah itu ...." kata Kyra pelan, "Aku mungkin sudah menutup mataku sejak tadi, agar kau tidak mati konyol karena tatapan."
Nada bicara Kyra ringan tapi tidak main-main, membuat pemuda itu melirik sekilas dengan sorot datar, karena itu bukanlah jawaban yang ia harapkan dari sosok yang biasanya keras kepala dan mudah tersulut. Lalu suara tenang itu kembali terdengar.
"Lebih dari itu," Kyra menyeringai tipis, menoleh sejenak kearah pemuda itu. "Aku tidak akan membunuh orang yang sudah menyelamatkanku."
Pemuda itu tampak diam. Irish mata merahnya sempat beradu tatap dengan Kyra, sebelum pandangannya ia lempar jauh kearah bulan megah dilangit malam. Hingga beberapa detik keheningan berlalu sebelum pemuda itu bergumam lirih, nyaris tak terdengar. "Begitu, ya. Jadi kau orang yang seperti itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍
FantasyDia bukanlah penyelamat, bukan juga pahlawan dalam kisah ini. Dia adalah kutukan bernyawa yang bahkan kematian pun enggan menyentuhnya. ༒ KYRA MARSHELYNA ༒︎ Sang Jenderal perang yang menghancurkan kota demi kota demi menanamkan rasa takut bagi musuh...
