14. Sebuah Danau

51.1K 5.6K 86
                                        

Publish: 20-12-2020
Republish: 25-11-2021



_____________________ _ _

🍒🍒🍒

"Aku tahu arah langkahnya bukan menuju surga. Tapi jika itu tempatnya berada, maka di sanalah seharusnya aku berdiri."

— Mingmei

🍒🍒🍒
_ _ _______________________



****

"Putri, pemandian sudah disiapkan," ujar Mingmei pelan, mencoba menstabilkan suaranya yang masih gemetar.

Kyra hanya membalas dengan gumaman singkat sebelum melangkah pergi, gaunnya melambai perlahan saat tubuh tegap itu menghilang di balik pintu kayu.

Mingmei tidak langsung bergerak. Matanya masih terpaku pada tempat junjungannya berdiri barusan, seolah bayangan sang putri masih tertinggal di sana. Di benaknya, kejadian di halaman paviliun tadi terus berputar seperti pusaran air yang tak kunjung reda. Sorot mata junjungannya yang sedingin es, suara tajamnya, gerakan tubuhnya saat menjatuhkan putri Lan Shi ... dan kalimat itu. Kalimat asing yang tak dimengerti siapapun, tapi membuat bulu kuduk berdiri.

"Prepare yourself, because the real game is just beginning, my dear sister?" bisik Mingmei, mengulangi apa yang ia dengar dari junjungannya tadi.

Mingmei tidak tahu arti sebenarnya. Namun, dari segi intonasi, tekanan nada, dan cara junjungannya melafalkannya dengan penuh percaya diri dan angkuh ... Mingmei menyimpulkan arti sebenarnya dari kalimat itu adalah ancaman, kutukan, atau deklarasi perang yang akan dimulai.

'Itu bukan bahasa dari kerajaan manapun yang pernah aku dengar .... Apa yang sebenarnya putri rencanakan?' batinnya gelisah.

Sejak bangkit dari sakit atau lebih tepatnya kematian, junjungannya berubah. Bukan perlahan, tapi seperti seseorang yang dilahirkan ulang menjadi pribadi lain. Bicaranya tegas, sorot matanya tajam, gerak-geriknya angkuh dan mendominasi. Tidak ada lagi ketakutan di matanya seperti dulu. Tidak ada lagi tangisan di malam hari atau rintihan minta tolong saat mimpi buruk datang.

Tabib pernah berkata bahwa junjungannya itu membawa aura gelap, tapi Mingmei menolaknya mentah-mentah waktu itu. Baginya, junjungannya itu adalah orang yang sangat baik. Tidak hanya itu, dia sosok yang lembut, juga berhati hangat, meski sedikit ... lemah.

Tapi sekarang.

Mingmei meneguk saliva susah payah. Hatinya seperti diikat benang-benang kecurigaan yang makin lama makin mengencang. Ia tak berani menyimpulkan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, putri ketiga yang ia kenal ... sudah tidak ada lagi.

Apakah mungkin dia memang bukan junjungannya yang asli?

Tapi entah kenapa, di balik rasa takut yang sempat menguar Mingmei justru merasakan sesuatu yang lain. Semacam ... perih yang menghantam. Mingmei tidak pantas menyimpulkan hal bodoh seperti itu. Ini semua terjadi pasti bukan tanpa alasan.

'Semua orang punya batasnya, bukan?' batinnya lirih.

Mingmei memejamkan mata, lalu berpindah ke sisi ranjang hanya untuk menenangkan diri. Terdengar helaan nafas berkali-kali dari bibirnya.

𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang