37. Mengusulkan Acara Lomba

32.4K 4.1K 442
                                        


Re-pubh: 02-05-2022
Happy Reading!


_____________________ _ _

~•🔱•⚜️•🔱•~

"Dia adikku? Lucu. Adik yang kukenal dulu bahkan gemetar di hadapan bayangannya sendiri. Bukan sosok yang kini menatap angkuh—seakan dunia bisa ia remukkan kapan saja."

_Pangeran Zhang_

~•🔱•⚜️•🔱•~
_ _ _______________________




***

Tidak hanya Kyra yang terkejut, pangeran Jingrai, kaisar Li Quan, dan semua orang di aula tampak mengerutkan alis, bingung. Di dalam kandang hanya ada sebuah karung yang diam tak bergerak, bukan pemandangan yang layak disebut menakjubkan.

Pangeran Mahkota Zhang melirik Kyra datar. "Kenapa kau menarik kainnya?"

"Inikah yang kalian sebut luar biasa itu?" Kyra mendecak pelan, suaranya rendah dan terkesan menghina. "Ternyata menunggu kalian hanya membuang-buang waktuku."

Pangeran Mahkota Zhang mengeraskan rahangnya. Gadis asing ini memang mempunyai nyali, tapi nyali saja tidak cukup untuk menantang darah kerajaan Qiang.

"Beraninya kau menghina hasil buruan kami," sahut pangeran Fang Zi datar, matanya mengintai Kyra seperti binatang buas. "Kau juga lancang karena tidak menjawab pertanyaan putra Mahkota. Apa kau tidak takut pada hukum?"

Pangeran Fang Bo menyusul, suara dingin namun tegas. "Di aula ini tidak peduli siapa kau entah tamu atau tuan istana, yang namanya kelancangan ada hukumannya. Siapapun yang berani meremehkan garis keturunan Qiang maka hukuman cambuk yang sepadan."

Kyra membalikkan tubuh perlahan, menghadap mereka dengan alis yang diangkat sebelah. Netra coklatnya menangkap dua lelaki tampan yang berdiri berdampingan dengan wajah yang sama persis.

"Tidak ada yang mampu membuatku takut apalagi manusia gila jabatan seperti kalian."

Bisik-bisik riuh langsung memenuhi aula. 'Gila jabatan?' Ucapan Kyra bagaikan cambuk yang memecah harga diri para pangeran Qiang di depan semua mata.

'Hhh kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri.' Putri Zhishu menyeringai.

Pangeran Mahkota Zhang melangkah maju. Tatapan tajam bagai pisau kini menembus Kyra, posturnya tinggi menjulang. Dia berdiri hanya satu langkah di hadapan Kyra, tangan santai di saku celananya.

"Tentu kau harus takut." Suaranya tetap datar. "Kami adalah darah bangsawan. Tinggi dan rendah ditentukan di sini. Kau hanya seorang putri biasa, takdirmu sebagai yang rendah dipegang oleh kami bangsawan yang lebih tinggi."

Kyra tersenyum sinis dibalik cadarnya. Orang-orang disini selalu mengatakan kalau dirinya itu tertinggi dan tertinggi, padahal ada yang lebih tinggi dari mereka dan bukanlah mereka penentu takdir melainkan Tuhanlah yang menentukannya. Begitu naif ... pikirnya. Suara Kyra terdengar lagi, bagai belati berlapis sutra.

"Begitukah? Kau merasa paling berkuasa di sini?" Kyra menatapnya tajam. "Mungkin kau terlalu sering menunduk ke bawah. Lupa bahwa di atasmu, ada yang jauh lebih tinggi."

Kerutan samar muncul di kening pangeran Mahkota Zhang. "Apa maksudmu?"

Kyra tersenyum dingin. "Benar. Kalian memang sewajarnya tidak mengerti karena otak kalian semua memang meragukan."

Riuh bisik-bisik makin menguat, sedangkan pangeran Jingrai di sudut malah tersenyum kecil.

Wajah pangeran Fang Bo mulai merah padam. "Siapa kau? Berani sekali bicara seperti itu pada kami!"

𝐓𝐈𝐌𝐄 𝐓𝐑𝐀𝐕𝐄𝐋 : 𝐎𝐅 𝐀 𝐂𝐎𝐋𝐃-𝐇𝐄𝐀𝐑𝐓𝐄𝐃 𝐖𝐎𝐌𝐀𝐍Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang