Chapter sixty six || Misunderstanding

1K 144 40
                                        

Lagi period nih
Masih setia kan?

HAPPYREADING!!

****

Jejak dunia itu samar untuk sebagian orang. Terkadang sebuah kenangan kehilangan jejaknya karena ulah sang pembuat kenangan itu sendiri. Apa yang menjadi memori indah dan buruk -berlalu seiring jalannya waktu. Apa yang bisa dilupa, dilepas, dihilangkan demi senyum di masa depan. Karena indahnya masa depan tak pernah lepas dari masa lalunya.

Untuk sebuah kenangan lama -lama sekali, terkadang otak kita tak mau bekerja sama demi menghilangkan kenangan tersebut. Jejaknya, kondisinya, bahkan percakapannya. Bagaimana seseorang mengingat betul setiap detik terlewati dari satu momen itu. Rasanya kalut, apa yang ingin dilupa malah menjadi ingatan permanen.

Kemudian Tuhan memberi jalan bagi sang pelaku kenangan itu untuk membuat kenangan lagi. Bagaimana? Dengan pertemuan, peristiwa, dan kejadian. Sebanyak apa momen untuk mereka, sesering apa momen untuk mereka, seberdampak apa momen itu untuk mereka. Selalu ada tawa dan tangis dibaliknya.

Pertemuan.

Kejadian.

Tangis.

Perpisahan.

Pertemuan lagi.

Terus seperti itu dengan kesengajaan Tuhan.

Perpisahan terakhir Valeryn Williams dengan Adhan Nathaleon Zevaro adalah saat di penjara -lebih tepatnya rumah sakit penjara. Valeryn sedang hamil, masih bersama mental mengerikannya, juga pikiran berat tentang pertanggungjawaban di masa depan nanti. Harus apa yah dia? Wanita manja dan bodoh ini bisa apa untuk mengurus anak?

Kemudian Valeryn pikir pertemuan tiba-tiba waktu itu akan menjadi pertemuan lagi. Tapi ... Dengan sengaja Tuhan membuat perpisahan sederhana tersebut terjadi hanya karena sebuah alasan klise yang Leon pun tak beri tau 'Ancaman untuk tersakitinya sang wanita'.

Huft.

Capek ya.

Keluhan dalam hati ini terkadang enaknya dicurahkan saja. Karena beberapa manusia tidak puas jika tidak mengeluh. Mengeluhnya sama siapa? Tuhan ofc. Tapi lagi-lagi Tuhan jawabnya dengan cara lain. Entah itu kejadian, peristiwa, pengorbanan, salah satu dari mereka jatuh, pergi, atau bahkan mati. Well ... Kata terakhir itu Valeryn masih menunggunya. Kapan ya?

Haha.

Kini ia menatap sepasang gelang hitam sederhana dengan kilauan hati di tengahnya. Yang satu berwarna silver dan satunya lagi bewarna gold. Sebelum Valeryn ikut ajakan Gray, ia melepas dua gelang itu dari tangan little twins. Alasannya sederhana -Valeryn takut kehilangan.

Entah apa yang Valeryn takut hilang.

Gelangnya kah, atau kenangannya.

Karena setiap kali menatap gelang ini selalu timbul pertanyaan, "Kapan ya bertemu tuannya? " kelihatannya sangat sepele, tapi kejadian itu terngiang-ngiang terus dalam pikiran. Apakah akan terjadi lagi? Kalau memang terjadi, kali ini siapa yang pergi duluan? Dengan alasan apa? Haruskah lagi-lagi ada pengorbanan?

Memang ya cinta itu berarti berkorban.

Siapa yang mengalah untuk kalah, dan siapa yang mengalah untuk bertahan.

Lebay yah bawa-bawa barang kenangan. Apalagi sama sekali tidak Valeryn pakai. Nanti juga pulang dan dipasang lagi ke tangan little twins. Dua anak kembar itu juga tidak pernah tanya-tanya ini gelang dari siapa. Mungkin cuman sekali dari Gabriel, "You buy these mom? " dijawab Valeryn dengan anggukan.

PROTECT 2 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang