Chapter twenty three || Need You

3.5K 247 52
                                        

Ini sudah satu minggu berlalu dan Leon merasa tidak tenang. Ia melirik Kirana sesaat hanya sekedar meminta persetujuan agar mereka bisa balik sekarang. Lagi. Kirana menolak dan lebih memilih sibuk dengan sekumpulan anak kecil penduduk Uummannaq. Wanita tanpa ekspresi itu akhir akhir ini menjadi lebih dekat dengan mereka. Membagi persediaan makanan, berkumpul, bahkan memancing bersama.

Leon pernah bergabung sesekali. Mengenal kemudian menjadi sangat dekat dengan beberapa anak di sana. Mereka kagum pada garis wajah Leon yang datar tanpa ekspresi tapi berbeda jauh dengan hatinya.

Entah ilham dari mana Leon jadi suka dan banyak menghabiskan waktu bersama mereka dan Kirana. Para orang tua juga sekali kali membuat acara kecil-kecilan hanya untuk merayakan kebaikan hati Leon ini.

Cih, menggelikan.

Sekujur tubuh Leon menggigil seketika. Walau sudah dibungkus jaket bulu besar tetap saja ... Seperti tinggal di kutub. Leon akhirnya memilih masuk ke dalam gedung. Ingin menikmati api kecil seraya duduk membaca buku.

Namun Leon dibuat kaget dengan kehadiran papanya Angga Zevaro yang lebih dulu berada di sana dan menatapnya dingin. Seakan benar-benar sedang menunggu kedatangannya.

"Papa? " Leon mendekat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Papa? " Leon mendekat. Membuka jaketnya dan menyisakan balutan kemeja dan celana. Sekujur tubuh Leon langsung menghangat. Tersadar, padahal lebih baik duduk-duduk santai di sini dari pada sok-sok peduli di luar sana.

"Papa masih punya waktu duduk santai? " lanjut Leon berusaha mencairkan suasana. Oh god, tatapan Angga seperti itu menandakan hal buruk. Dan Leon tidak ingin dulu berpikir macam-macam. Ingin beristirahat sebentar dari beratnya urusan gedung-robot yang harus disembunyikan itu.

Melelahkan sekali.

"Williams ... "

Satu kata pertama dari mulut Angga, Leon langsung membalas tatapan dinginnya.

".... Memanfaatkan perjalanan ini. "

"Hah? "

"Istrimu ... Menghilang dari sinyal maps sejak enam hari yang lalu. "

Godness.

Tidak kali ini, tidak waktu ini, tidak kesempatan ini, Leon membiarkan wanita itu ... Lagi. Jangan salahkan ia yang tiba-tiba pergi membanting keras pintu dan berlari hanya untuk membentak para pengawal dan menaiki helikopter dibawa oleh satu pengendara.

Tidak ada Kirana sebagai pendamping, tidak ada Angga sebagai penenang, bahkan tidak ada siapapun sebagai penemani. Saat ini ... Leon murka, marah, kesal, jengkel. Kenapa? Kenapa firasat buruk ini tuhan nyatakan? Leon tidak pernah minta.

Bahkan ia berharap sekarang yang sedang mencengkeram kuat tangannya sendiri hingga terlihat urat-urat, bahkan mencoba memecahkan kaca helikopter, bukanlah Nathaleon Zevaro.

PROTECT 2 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang