Chapter twenty nine || Sleeping Beauty

3.3K 286 31
                                        

"Come here, my little girl

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Come here, my little girl ... "

Kedua lensa pekat wanita menyedihkan itu memanas, seakan terbakar. Warna lensa berganti lagi ... Ia nyaris kehilangan semua hal waras. Menatap wanita paru bayah di depannya tajam, sangat tajam. Kemudian menjauh dan memberontak, berusaha melepas diri.

Hingga akhirnya berhasil, ia berlari ke dinding. Kedua kaki kecilnya kotor, berdarah, dan sangat menjijikkan. Ada bekas segel di pergelangan kaki juga tangan.

Bisa ia rasakan langsung ketidakadilan apa yang baru saja mengurungnya, mengikatnya, bahkan menyiksa napasnya. Ruangan kecil, pengap, berbeton, dan gelap. Ia lalu menatap diam segel besi tertanam kuat di depannya itu.

Menyiksa ... Sangat menyiksa.

Hanya beberapa jarak tapi hatinya terasa tenang, segel mengerikan itu jauh dari tubuh penuh luka-lukanya saat ini. Namun cukup membangkitkan kembali halusinasi gila yang baru beberapa jam lalu memudar.

"Grandma ... "

Lisannya masih bisa berucap dengan benar. Memanggil nama seorang wanita paru bayah yang kini terduduk dalam keadaan tidak baik. Mencoba menenangkan padahal tidak perlu. Ia tidak suka dibuat seperti itu. Makin jelas terlihat sisi lain dirinya.

Yeah, ia sadar. Bukan--mencoba sadar. Dalam keadaan genting seperti ini, tuhan tidak bisa diajak kerja sama. Mungkin sedang duduk sambil tertawa bahagia.

Sudut tatapan matanya seakan buta. Yang disaksikan saat ini adalah seseorang yang berusaha mengamputasi kewarasan harfiahnya. Ia murka, sangat murka.

"It is hurt? " tanyanya pelan-pelan. Seraya mendekat dan menyeret dress putih kotor pelapis tubuh kecilnya.

Percayalah, ia sangat menjijikkan.

"No, baby. I'm okay. "

"Don't lie grandma!! " ia geram, meremas kuat kedua tangan. Makin murka mendengar jawaban tidak diinginkan itu, "I know you are in pain. "

Tapi lagi dan lagi grandma menyangkal, "It's okay. I'm fine, little girl. "

Grandama mengatakan itu sambil tersenyum lebar, melentangkan kedua tangan dengan maksud agar jangan takut dan mau mendekat padanya. Seakan tak takut apa yang bisa saja terjadi dari pergerakan gilanya saat ini.

Cukup bernyali. Masih bisa tersenyum di saat tembok pun tau dia sedang terluka parah.

Namun, ia bisa menghilangkan senyuman itu dalam beberapa detik. Ia meneriaki wanita itu berkali-kali. Mendekatinya dengan cara lain, tanpa rasa iba sedikit pun.

Bayang-bayang akan seorang lucifer memenuhi setiap sudut pikiran. Memberi banyak ruang untuk menjadi orang lain ... Sekali lagi. Di mana apa yang dilakukan saat ini jauh dari hasrat ingin berhenti dan menyudahi semua.

PROTECT 2 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang