E P I L O G

820 66 7
                                        

Baby Vee ...

Vee ...

Valery ...

"Grandma? "

My little devil ...

"Grandma is that you? "

Nampak wajah, nampak suara, nampak langkahnya mendekat begitu pelan ke pijakan sang gadis remaja itu. Dia sedang sibuk mengunyah eskrim vanilla di tempat duduk favoritnya. Tidak ada seorang pun di sana kecuali dirinya di malam gelap gulita ini.

Di halaman mansion keluarganya.

"Ah ... My beatiful devil. "

Grandma ... Dia datang mendekat ke arah gadis itu. Dia melentangkan tangannya lebar berharap sang gadis berlari untuk memeluknya. Dan benar, gadis itu sungguh berlari memeluknya. Es krim tadi pun ia sengaja jatuhkan, tangannya ia jilat hingga bersih agar dapat memeluk neneknya dengan bersih pula.

"Grandma dari mana saja? Vee sudah menunggu dari tadi. Maaf hanya membeli satu eksrim. "

Grandma tersenyum tenang. Dia mengelus lembut rambut panjang gadis itu dan mengecupnya berulang kali. Dia lalu berujar dengan nada suara yang makin serak menua, "Kau sudah besar ya. Apa makanmu lancar setiap hari? "

Si gadis menjawab semangat, "Sangat lancar. Pagi aku sarapan roti tawar, siang aku masak nasi dan sayur, lalu malam minum susu sesuai permintaanmu. "

"Tidak baby Vee ... Kau berbohong. "

"Hah? "

Grandma mengambil duduk di kursi sang gadis tadi. Mereka pun duduk berdua dengan saling menatap penuh kerinduan.

"Kau hanya makan makanan instan, sering mengonsumsi eskrim dan jarang membersihkan diri. "

Sial, sang gadis ketahuan.

Grandma yang menyadari perubahan ekspresi cucunya langsung menggeleng sambil tertawa kecil, "Tidak ... Grandma tidak akan memarahimu. Kau menjadi sehat dan cantik begini sudah sangat grandma syukuri. "

Sang gadis langsung memeluk wanita tua itu senang. Apa yang terjadi tiba-tiba ini memang tidak dapat didefinisikan dengan sempurna. Seseorang yang duduk di depannya dalam keadaan sehat lahir batin adalah mimpi terbesar bagi dirinya.

Ya, mimpi.

"Grandma ... Vee ingin menanyakan sesuatu, " seketika ia menyadari situasi mereka dan tidak ingin melewatkan waktu berharga ini, "Kenapa grandma tidak menghindari perubahanku waktu itu? "

Hening. Si grandma melepas pelukan mereka untuk bisa menatap lekat wajah sang cucu.

"Bola mata merahmu ini saksinya baby Vee. Kau berubah menjadi bukan dirimu. "

"Iya Vee tau. Tapi Grandma bisa menghindar kan? Kakiku terikat saat itu. "

Lagi. Sang gadis dihantui rasa penasaran selama bertahun tahun. Ia besar dengan ketidaktahuannya atas hidupnya sendiri. Ia dikendalikan oleh keluarganya, bukan tubuhnya. Bahkan untuk apa yang ia lakukan, tidak pernah disadari oleh akal sehatnya sendiri.

"Waktu itu kau memang mencekikku. Aku tidak menghindar karena ..."

"Karena? "

" ... Jika tidak membunuh seseorang, emosimu tidak akan redah. "

Wajah sang gadis langsung syok. Jadi teringat pada kejadian malam itu. Malam menakutkan di mana ia terkurung dalam ruangan brutal dengan tubuh yang dikunci dan pergerakan yang sewaktu-waktu ganas. Mencekik adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan tanpa sadar.

PROTECT 2 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang