Untuk sampai pada titik yang sebenarnya, Tuhan bilang bertemulah lagi, buat kisahlah lagi, tapi untuk akhir, jangan tanya padanya. Ini waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kesengajaan masa lalu.
Tidak ada teori bahwa 'Mencintai harus memiliki', ta...
Pagi yang cerah. Burung-burung bersiulan. Cahaya matahari menyinari ruangan ketika gorden dibuka. Suara dengkuran seseorang berubah bisik-bisik ketika ia terjaga.
Tampaknya belum ada kesadaran. Ia masih merasakan kenyamanan di king size orange tersebut. Menggaruk-garuk rambutnya, bisa terlihat langsung bagaimana acaknya rambut panjang itu.
Valeryn menguap. Memeriksa kanan kiri. Menerka-nerka dimanakah ia saat ini. Lalu.... Valeryn tersentak hingga reflek menutupi dirinya dengan selimut ketika seorang laki-laki berbadan kekar tengah bersidekap menatapnya.
"Sudah bangun? "
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"LEON??!!! "
Valeryn memukul-mukul kepalanya pada bahu kasur. Memeriksa bagaimana keadaan busananya, dan ternyata yang ia pakai sekarang adalah kemeja putih berukuran lebar dan celana short.
"Ba.. Ba.. Bajuku DIMANA?! " Valeryn menatap Leon tidak percaya.
Leon mengangkat bahu acuh.
"Mandilah. Atau pergi dengan keadaan begitu? "
Valeryn meringis, "Kau gila? Mana mungkin aku keluar dengan pakaian seperti ini? "
"I told you. "
Leon pergi begitu saja. Valeryn mendesah. Belum percaya dengan apa yang ia lihat ini. Bisa-bisanya Valeryn semalaman di sini? Bukankah tadi malam Valeryn bersama manajar Brian di club?
So, apa yang terjadi?
Ah, wait...
Valeryn seperti mengingat sesuatu.
"Kenapa hidup ini begitu memuakkan? "
Alis Leon terangkat satu. Memberi isyarat pada lelaki di belakang Valeryn 'Dia kenapa?' dan lelaki itu bilang bahwa Valeryn sedang mabuk.
Leon memutar bola matanya jengah.
"Ambil dia dan bawa pulang. "
Manajar Brian memegang lengan Valeryn namun secara kasar Valeryn tepis. Dan spontan wanita itu loncat melilit leher Leon. Ia sepertinya tidak ingin lepas dari sisi Leon.
"Lepaskan aku. " keluh Leon.
Valeryn tidak mengidahkannya. Dan terus bergelantungan pada leher Leon. Berkomat-kamit tidak jelas, tertawa lepas, bahkan menunjuk-nunjuk dada bidang Leon.
"Kau tau... Aku merindukan mu. "
"Bawa mobil? " Leon memalingkan arah pandang ke arah manajar Brian.
"Iya. "
"Tunjukan aku jalannya. "
"Baiklah. "
Leon menggendong Valeryn ala brital--melangkah membawanya ke mobil manajar Brian. Di sana Valeryn berisi keras tidak masuk. Ia bahkan menyiksa dirinya sendiri di tengah parkiran. Tentu saja orang-orang yang melihat itu menunjukan hawa beda.