Sebelum semua itu terjadi
13.00
Terpampang besar logo berbentuk Z di depan sebuah Cafe besar bertema minimalis. Angga Zevaro selaku pemilik tempat bernama Z Cafe tersebut melangkah masuk. Pandangannya jatuh pada lelaki muda tampan yang sedang sibuk mengotak-atik tablet.
Untuk hari ini, Z Cafe sepi. Bukan karena kekurangan pelanggan tapi sang pemilik yang sengaja mempribadikan tempat itu untuk sebuah pertemuan penting.
"Lama tak berjumpa, Dennyal. " sapanya.
Dennyal tersadar, "Ah? Senang bertemu kembali. "
Keduanya berjabat tangan. Hanya sekilas, tanpa melempar senyum. Angga pun duduk bersilah kaki, begitupun Dennyal. Ruangan mereka dikosongkan, kedua CEO itu butuh privasi.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan? "
Dennyal terdiam sebentar melirik kembali layar tabletnya, "Aku butuh gedungmu. " jawab Dennyal to the point.
Angga menatap serius, "Harus se-privasi ini? "
"Costumer adalah raja bukan? "
Angga mengangguk paham, "Aku tau. Tapi .... Costumer-costumer sebelummu tidak seberlebihan ini ketika membeli unit yang sama. "
"Aku bukan mereka. "
Angga refleks terkekeh. Dennyal memang seseorang tanpa banyak kata. Melihat lelaki muda ini kembali setelah sekian lama adalah bukan sebuah kebetulan. Angga ketika mendengar bahwa pemilik perusahaan robot itu ingin bertemu, ia langsung membatalkan pertemuannya dengan para investor dan menyuruh Kirana membuat janji.
Ah, ini lama sekali.
Angga berharap tidak ada hal buruk.
"Kau tau gedung milikku bukan sembarangan kan? "
Dennyal menegakkan bahunya, "Tentu saja. Inilah alasanku hingga datang menemuimu langsung. "
"Baiklah. Teruskan, "
"Patokkan harga gedung terbaik yang kau miliki. Jangan memberiku gedung tanpa kepemilikan tanah. Setelah berpikir panjang, solusi real estate tidaklah bagus. Aku tau kau memiliki real property terbaik di negeri ini. "
"Gedung dan tanah di lingkup Amerika? "
"Tidak, " Dennyal menyahut cepat, "Biar perlu di luar eropa. "
Angga mulai memahami maksud Dennyal. Sepertinya ini bukan pertemuan costumer biasa. Alasan kenapa Dennyal butuh privasi.
"Oh god, kau tidak salah membuat janji. "
Dennyal terkekeh, "Of course. Aku pikir semua jelas. "
Angga berpikir sebentar. Ia juga tidak mungkin memanggil Kirana sekarang. Situasi mereka saat ini menyangkut hubungan baik dua negara.
Dan sekeras apapun Angga berpikir, jalan keluar selalu ada, "Baiklah, Mr. Williams. " ia menjeda, "Aku memiliki gedung bertingkat sepuluh di Greenland. Sebenarnya proyek itu sudah lama sekali. Hampir tidak terpakai. Kau tau Greenland itu bagian Denmark yang sunyi dan damai. Masyarakatnya juga tutup mata akan politik. Perusahaanku tidak akan mendapatkan keuntungan jika proyek itu diteruskan. "
"Aku tau ke mana arah pembicaraan ini. "
"Tapi ternyata putraku diam-diam melanjutkannya. "
Dennyal menghela napas pelan.
Angga melanjut, "Aku tidak tau kenapa. Tapi dia bilang untuk menambah titik kekuasaan wilayah. Well ... Negeri ini ingin berencana buka konsultan jendral di sana. Setelah berpikir panjang, tidak salah jika mencoba. "
KAMU SEDANG MEMBACA
PROTECT 2 √
RomanceUntuk sampai pada titik yang sebenarnya, Tuhan bilang bertemulah lagi, buat kisahlah lagi, tapi untuk akhir, jangan tanya padanya. Ini waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kesengajaan masa lalu. Tidak ada teori bahwa 'Mencintai harus memiliki', ta...
