Untuk sampai pada titik yang sebenarnya, Tuhan bilang bertemulah lagi, buat kisahlah lagi, tapi untuk akhir, jangan tanya padanya. Ini waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kesengajaan masa lalu.
Tidak ada teori bahwa 'Mencintai harus memiliki', ta...
Gimana kabarnya plen? Maaf dari aku 451574 kali yaa Semoga harimu indah(:
Jangan lupa respect author! HAPPYREADING!!!
****
Valeryn menunduk pasrah, ia menyadari apa kesalahannya hari ini. Mendengar hembusan napas panjang dari kakaknya, membuat nyawa Valeryn makin menciut. Sepertinya Dennyal khawatir, bahkan lelaki itu masih dengan jasnya dari pernikahan tadi. Dia pasti kepikiran, padahal pestanya sudah selesai dari lima jam yang lalu.
"Baby Vee ... "
Rahang Dennyal mengeras, lelaki itu menatap tajam wajah adik satu-satunya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa kau terluka? "
Valeryn menggeleng cepat, "Tidak sama sekali. "
"Benarkah? "
"Iya Kak ... Demi tuhan. "
Dennyal mendekat dan mendekapnya erat. Mengelus puncak kepala Valeryn lembut dan mengecup dahinya. Raut wajah Dennyal memang penuh dengan kekhawatiran luar biasa, dia takut adik satu-satunya kenapa-napa. Bahkan dia tidak berbuat apa-apa untuk menjadikan Valeryn baik-baik saja.
"Kudengar kau mengendarai helikopter. "
Valeryn diam beberapa saat. Semua orang tau bahwa itu hal mustahil yang bisa Valeryn lakukan, apalagi ketika dia sendiri tanpa kakaknya yang memandu. Dan Dennyal pasti lebih mencemaskan berita itu dibanding berita bahwa ia disandera Angga Zevaro.
"Yakin? Masih ingat bagaimana kau merepotkan aku dulu untuk mendapatkan SIM mobil? "
Valeryn refleks terkekeh, "Ah ... Kakak! "
"Hahaha, " Dennyal kembali menyapu-nyapu rambut panjang Valeryn, "Selama kau selamat seperti ini, aku mengalah. "
"Ya ... You have to. "
Sekali lagi Dennyal mengecup dahi Valeryn dan menyuruh wanita kecilnya itu istirahat. Dennyal bersidekap, menatap punggung Valeryn sampai benar-benar hilang dari pandangannya. Valeryn memang anaknya pemberani. Dia bisa menangis, bisa takut, bisa cengeng, tapi jiwanya tetap si tangguh yang berani, tetap si orang berbeda dari si lemah.
Penyakit dia memang sudah lumayan hilang, tapi sifat tangguhnya masih ada dalam diri Valeryn. Dia bisa saja jadi orang lain jika dia mau. Dan itu yang terkadang buat Dennyal takut, takut kalau Valeryn akan merasa kesepian lagi. Karena dia terlalu menyukai dirinya yang lain hingga malas berbaur dengan orang lain.
Ia tidak menyangka Valeryn harus secepat ini dewasa.
Dennyal menghela napas panjang. Lelaki itu kemudian bergegas ke kamarnya dan mendapati Cassandra Felisya di sana. Wanita manis itu kini duduk menyandar pada bantalan kasur sambil membaca buku. Satu yang buat Cassandra berbeda malam ini, dia memakai baju sangat terbuka. Baju yang memang di desain untuk situasi seperti ini.