Untuk sampai pada titik yang sebenarnya, Tuhan bilang bertemulah lagi, buat kisahlah lagi, tapi untuk akhir, jangan tanya padanya. Ini waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kesengajaan masa lalu.
Tidak ada teori bahwa 'Mencintai harus memiliki', ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Valeryn yang tadinya sedang berbaring di ruang baca transparan dekat taman belakang, langsung berlari kencang menemui sang sumber suara di koridor pintu utama.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"KAKAK!!! "
Dennyal terkekeh geli melihat tingkah kekanak-kanakan Valeryn, adiknya. Lelaki tampan berumur 26 tahun itu mendekap Valeryn ke dalam pelukannya.
"Apa kabarmu baby Vee? "
Valeryn memeluk erat--sangat erat. Mengusap lama kepalanya pada dada Dennyal. Hingga tidak mendengar pertanyaan lelaki itu.
"Sudah makan? "
"Baby Vee? "
Dennyal melepas lembut pelukan mereka. Menatap manik hitam sang adik kesayangan, begitu sedu dan berkaca-kaca.
"Hey? Kenapa menangis? "
Valeryn meringis, "Kakak tidak capek bekerja terus? Pulang balik kanada, mexico, dubai, dan Indonesia itu melelahkan. "
Dennyal mengacak rambut Valeryn, "Selagi kau hidup sehat dan tidak sakit-sakitan, aku akan melakukan apapun. "
Sudut bibir Valeryn menurun. Pertanda ia akan menangis lagi. Dennyal langsung merangkul Valeryn dan membawa gadis kecilnya itu ke meja makan.
"Janeta?! " panggil Dennyal.
Asisten setia dan paling terpercaya yang Dennyal amanahkan menjaga Valeryn itu buru-buru datang dan menemui sang majikan.
"Yes Sir?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.