Chapter forty five || Love huh?

1.7K 174 22
                                        

Aku tau klean lagi rebahan
Kalau kecepatan slowmo aja

😂😋

Jangan lupa begadang lagi malam ini!!!

HAPPYREADING!!!

****

"DENNYAL!!! "

Hentakan keras sepatu Leon terdengar nyaring disepanjang langkahnya memasuki ruang utama CEO of Williams Company di lantai tujuh. Matahari barusan tidak lama menampakkan diri, teriakan Leon dari sesto elemento-nya terpakir mengundang banyak sorot mata. Entah mengapa tidak ada yang berani menghalangi lelaki itu.

Dia marah, sangat marah.

Di sana, Dennyal berdiri di samping dinding kaca transparan sedang memegang segelas kopi. Tapi kopi tersebut terlempar jauh dibarengi termundurnya tubuh Dennyal ke dinding. Dia kaget, tapi masih mampu berekspresi tenang.

"Kenapa kau selalu menyulitkanku Dennyal!!! "

Dennyal memperbaiki kerah kemeja, setelah diberi satu pukulan, terlihat nampak nenar biru di bagian bibir. Para bodyguard mencoba masuk, tapi oleh Dennyal ditahan dengan kode tangan. Mereka ditinggal berdua dalam ruangan lebar tersebut.

"Apa masih terlalu bocah jika ada masalah harus selalu dibawa emosi? Berantam? " Dennyal menjeda, "Ada apa? Kita bisa bicarakan baik-baik. Kau adik iparku bukan? Ke-"

"Kita bukanlah siapa-siapa dimata hukum. "

"Baiklah. Ada apa? Jelaskan dengan perlahan. "

Oh god, Leon tidak tahan. Leon ingin membunuh orang ini. Sudah lama sejak Leon tidak menggunakan seni bela dirinya. Tangan kekar ini, ekspresi murka ini, Leon pertama kali rasakan sejak sekian lama. Sebelumnya, tidak ada alasan untuk Leon murka.

"Kau ... " Leon spontan mendorong Dennyal dengan menyikut dada dan leher lelaki itu ke dinding, "Kenapa saat itu harus Bundaku huh? Dia tidak pantas diseret oleh masalah apapun. Dan kau!!! Membuatnya harus merasakan kepahitan masa lalu. "

Dennyal terdiam sebentar. Mungkin sedang berpikir. Apa yang Leon katakan ini di luar ekspetasi. Garis wajah Leon naik, tatapannya menusuk sayatan lensa. Geraman Leon seperti tak memandang siapa-siapa lagi. Dia ... Emosi. Ini adalah ekspresi yang sama ketika perkelahian mereka dulu.

"Aku menyukai Sandra Denaya, dan kau tak bisa menyalahkan aku atas itu, Zevaro, " Dennyal melepas tangan Leon kasar, memperbaiki posisi berdiri dan membalas tatapan Leon tak kalah tajam, "Ini adalah perasaan. Seperti kau menyukai Valery tanpa sebab, seperti itulah aku menyukai Sandra tanpa alasan. "

"KENAPA!!! KENAPA KAU HARUS MENYUKAINYA YANG JELAS-JELAS SUDAH DIJODOHKAN DENGAN PAPA?!! "

"AKU MENYUKAINYA SEJAK DIA BERUMUR SEPULUH TAHUN!! "

Ha?

Leon terdiam sebentar, berpikir keras. Hubungan percintaan mereka, sebenarnya Leon tidak peduli. Percayalah, menjadi cuek juga sulit. Tapi ini menyangkut hidup Bunda. Hanya karena perlakuan orang ini di masa lalu, kejadian itu dijadikan bahan olok-olokan Leon ketika SMA dulu.

"Nevermind, yang pasti karena itu kau marah dan mencoba menyakiti Bunda right? " rahang Leon mengeras, "Lalu mencoba menggunakan Mrs. Vanessa sebagai alasan pada kesalahan yang kau buat? Ck, seidiotnya orang bodoh, kau lebih idiot. "

Dennyal tersenyum miring, dia begitu terlihat tenang walau dalam ancang-ancang perlindungan dari pukulan Leon yang mungkin tiba-tiba.

"Kau cuman tau setengah dari cerita hidup kami. Grandma meninggal karena dibunuh. Aku nyaris memerkosa Sandra dan menggunakan kematian grandma sebagai dampak perlakuanku. Dia stres, meninggal, dan Valery kabur. Right? Hanya itu yang kau tau, benar? "

PROTECT 2 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang