Chapter thirty three || Our First Nightmare

3K 255 36
                                        

Helooooo
Maap untuk kesekian kali
Dengan alasan yang sama

Don't forget to respect me!
And sound on ::

The weekned - Call Out My Name

Pokoknya sound ini perlu banget
Kita berbicara tentang feeling
Okay :)

HAPPYREADING!

****

Tidak tau lagi mengapa benda kecil indah itu hilang, sudah dicari kemana-mana tidak ada. Bahkan dicek ke rumah-rumahan minnie mouse. Valeryn kecewa. Ulah setan kah? Atau jin?

Perasaan baru kemarin Valeryn pakai cincin itu. Melihatnya masih mulus saat suapan pertama pizza masuk ke dalam mulutnya. Valeryn juga sudah tanya Janeta tapi hasilnya tetap nihil. Janeta bahkan tidak tau kalau Valeryn pernah memakainya.

Ck, Leon bisa saja murka kalau benda kecil bernilai tinggi itu tidak dipakai. Kesannya tidak adil. Leon sudah memakainya setiap hari. Valeryn kadang nyaris menyubit perut Leon kalau barang sedetik saja cincin itu dilepas.

Ke kamar mandi?

Tetap harus dipakai.

But look? Valeryn sendiri menghilangkannya. Mana terakhir kali simpan Valeryn lupa. Kelamaan di rumah tingkat kelupaannya naik drastis.

Valeryn berjalan gontai ke lantai bawah tepatnya dapur. Duduk menikmati makan siangnya. Tanpa siapapun menemani. Ah sial, Valeryn lupa mengikat rambutnya juga. Jadinya malah belepotan di poni rambut.

"Ma'am permisi? "

Valeryn mendongkak. Dalam keadaan berantakan. Membuat Janeta berusaha menahan tawa dan berusaha fokus pada tujuannya memanggil Valeryn.

"Ada yang datang. "

"Siapa? Kakak Dennyal? Cassandra? Aku tidak mau bertemu. "

"Bukan, Ma'am, " Janeta menjeda, "Saya juga tidak tau siapa karena sebelumnya belum pernah datang kemari. Tapi ... "

"Tapi siapa? Leon? "

Maka terlanjurlah Janeta tertawa. Walaupun itu refleks, tapi untung Valeryn bukan nyonya darah tinggi.

"Ini kan mansion Mr. Nathaleon, Ma'am. "

Valeryn mengibas tangannya. Sepertinya ia mulai bego kembali. Damn. Ini tidak boleh terjadi. Valeryn harus jadi wanita pintar dan ambisius. Ia lulusan Harvard university.

"Lebih baik anda melihatnya sendiri. "

"Tidak perlu, " Valeryn lanjut menyuap, "Suruh saja masuk. "

Janeta membungkuk. Lalu bergegas membuka pintu. Tak lama dari kesenyapan, Valeryn dibuat kaget dengan suara ribut serta teriakan beberapa laki-laki dari ambang pintu.

"Selamat siang Dora!!! Rindu gue nggak lo? "

"Ya elah si pecandu cokelat makin cantik aja. "

"Astaga Valery ada apa dengan wajahmu? "

"Aku datang membawa lima cup eskrim rasa vanilla. "

Valeryn membuka mulutnya lebar-lebar. Sangat lebar. Sangking lebarnya bekas nasi dalam mulut menghamburkan atas meja makan. Valeryn terdiam belum percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.

PROTECT 2 √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang