Untuk sampai pada titik yang sebenarnya, Tuhan bilang bertemulah lagi, buat kisahlah lagi, tapi untuk akhir, jangan tanya padanya. Ini waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kesengajaan masa lalu.
Tidak ada teori bahwa 'Mencintai harus memiliki', ta...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
21.30
Semua mata mengarah pada dua insan sana. Angga, Sandra, Mey, dan ayah Werent. Suasana terdiam sedemikian rupa hingga mengeluarkan pendapat pun tidak ada yang berani. Masing-masing terluka karena kecewa. Terutama lelaki berdarah dingin sana.
Leon menunduk tanpa kata. Memegang kepalanya tanpa berani mengarahkan pandangan pada wanita itu ... Werent. Situasi memojokannya, Leon nyaris cacat berpikir. Ia tak menyangka hari seperti ini akan datang.
"Aku akan tanggung jawab, " kalimat pertama dari Leon. Semua mata kompak menatapnya. Angga ... Dia sangat murka. Rasanya ingin menampar anak sendiri.
"Tak perlu. "
Leon mengusap wajahnya gusar menatap Werent penuh kemarahan, "Apanya yang tak perlu? "
"Ak-aku ti-ti maksudku ak-aku ... Hid-"
"Werent memiliki riwayat kanker hati. Umur dia kini tinggal di tangan Tuhan. Jikalaupun janinnya hidup, ibunya tidak. "
Leon terdiam seketika. Begitupun Angga, Sandra, dan Mey. Werent tau apa yang dia lakukan. Mereka sama-sama menikmati malam itu. Leon sadar bagaimana pergerakan dan nafsunya. Malam itu terjadi atas keinginan mereka.
Leon tidak tau bahwa Werent tidak memakai apa-apa (pelindung), Leon juga tidak tau bahwa Werent adalah virgin. Padahal malam itu dia terlihat sangat bersemangat seakan sudah terbiasa. Leon juga tidak memikirkan hal lain selain melampiaskan semua.
Setelah malam indah itu, sebulan mereka tidak saling berkomunikasi. Bahkan berpapasan atau saling mencari tau. Hingga Werent dan ayahnya tiba-tiba datang kemari dan membuat malam ini penuh kelabu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Leon lelaki pertama yang menidurinya. Yang Leon tau saat itu cuman 'Werent adalah jalang'. Dan ternyata dia wanita polos yang sedang terluka mental karena penyakit dan mencari kesenangan sesaat. Saat itu mereka di situasi yang sama. Terluka.
"Mungkin janin ini tidak akan bertahan lama, " ucap Werent penuh helaan napas berat, "Saya tidak meminta anak anda untuk bertanggung jawab. "
"Lalu kenapa kalian datang kemari? " tanya Angga arogan. Dia tetaplah Angga Zevaro, walau situasi segila apapun itu.
Werent tidak menjawab lagi. Dia menangis sambil menunduk. Dia menikmati malam itu, berharap cuman kesenangan sesaat. Tapi yang ada malah kesalahan. Dia tidak mengenal Leon dan Leon tidak mengenalnya. Tapi keadaan membuat mereka melarikan diri dan bertemu.