Halo plen🌚
Semoga kabarnya baik.
Capek minta maaf hei, entar klean bosan dan berniat menyantetku
Btw double up nih
HAPPY READING!!
****
Semalaman sampai pagi ini keluarga Zevaro termenung di ruang tamu tanpa ada keributan atau bising seperti biasa. Kesenyapan menguasai mereka setelah Leon mendapat telepon bahwa kepala keluarga mereka akan dihukum mati. Jauh dari apa yang direncanakan, Leon tidak berpikir akan sejauh itu.
Sandra Denaya sedari tadi tidak kunjung berhenti menangis. Mey menenangkannya sambil dielus-elus bahu Sandra. Sandra semenyedihkan itu dari awal mendengar kabar bahwa suaminya Angga Zevaro sedang menyandera mantan menantunya sendiri, Valeryn Williams.
"Semua ini salahku, " lirih Sandra sedu.
"Aku tau papa yang bersikukuh untuk melakukan semua, Bunda, " Leon mengepal kuat tangannya sambil menunduk berpikir, "Semua yang terjadi waktu itu aku mengetahuinya. Kejadian kalian, konflik kalian, balas dendam kalian. Bunda tau itu salah, bunda bahkan tidak menyuruh atau memerintah padahal bunda lah korbannya, tapi mengapa ... Mengapa papa tidak dihentikan? Semua orang tau bahwa papa hanya mendengarkan kata-kata bunda. "
Tangis Sandra makin pecah.
"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, " Leon menyandar pada bahu sofa, "Aku hanya kesal kenapa dari kalian tidak ada yang mendukungku dengan Valery. "
Mey tiba-tiba menyeletuk, "Hubungan kalian itu sebenarnya sangat direstui oleh Bunda, dasar bodoh. Tapi sikap balas dendam papa membuat kami diam saja. Kau sendiri tau bagaimana sikap papa kalau sedang menginginkan sesuatu ... Bahkan pendapat bunda pun tidak didengarkan. "
Leon memejamkan mata kesal.
"Buatlah pilihan yang benar. Semua keputusan saat ini berada di tanganmu, " lanjut Mey.
Sandra menghentikan ringisannya. Dia lalu berusaha tegar, menghapus pelan-pelan air matanya, mengatur deru napasnya, mencoba menetralisir kesedihannya dengan baik hingga perlahan kepanikannya berkurang. Dia secemas itu untuk mengetahui bahwa sebentar lagi suaminya akan dihukum mati. Dan dia sedang berusaha untuk kuat.
Setiap manusia memiliki hati nurani, dan Leon masih memiliki itu. Demi Tuhan ia tak sanggup menatap mata bundanya yang masih berlinang air mata tersebut. Leon tau sesakit apa itu, dan Leon kesal pula karena tidak tau harus berekspresi bagaimana. Ia marah pada keluarganya, tapi ia tidak bisa membenci mereka.
"Bunda tidak memihak siapapun. Bunda tau papa salah. Tapi untuk kepergiannya ... Susah untuk bunda terima, nak. Mengertilah ... Kau juga pernah mencintai, " ujar Sandra lirih.
Rahang Leon mengeras, rasanya campur aduk sampai pagi ini. Semalam Leon tidak lagi mengantar Valeryn pulang walau tau bahwa dia ditelepon kakaknya. Setelah dari sana Leon langsung ke kantor polisi menemui papanya. Angga Zevaro langsung menyerahkan diri dan mengaku bersalah. Maka dari itu jaksa tidak menuntutnya lagi, tidak menyewa pengacara lagi, tidak mengadakan persidangan lagi.
Kesimpulannya dia dipenjara.
Dan dihukum mati.
Sandra syok, Mey syok, ketiga dari mereka berkumpul di ruangan ini untuk berunding apa yang harus dilakukan. Sandra sampai sesedih itu karena merasa bersalah tidak memberi tau semua rencana Angga pada Leon dari jauh hari. Sandra juga tidak ada ketika Leon down atau merasa kehilangan karena kepergian Valeryn. Padahal biasanya bundanya lah tempat Leon pulang dan memangku kesedihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PROTECT 2 √
RomantikUntuk sampai pada titik yang sebenarnya, Tuhan bilang bertemulah lagi, buat kisahlah lagi, tapi untuk akhir, jangan tanya padanya. Ini waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kesengajaan masa lalu. Tidak ada teori bahwa 'Mencintai harus memiliki', ta...
