Chapter fifty four || What's Wrong With These Days?

1.7K 197 59
                                        

Hello again 😙
Yuk naikin viewers jadi 200 ribu!
Share juga penting!
Berbagi kesedihan. Jangan baper sendiri

Okay?

HAPPY READING!

****

Kira-kira hampir setengah jam Valeryn mondar mandir di depan gedung apartemen megah kota itu. Dengan tujuan membawa pesanan pelanggan terakhir. Valeryn ingin pulang cepat. Ia bersumpah setelah ini tidak akan sok-sok rendah hati mengambil ahli pengantaran. Orang yang ditugaskan mungkin sedang nyantai di restoran.

"Apa aku masuk saja? "

"Tapi bagaimana kalau dia tau? "

"Bagaimana kalau ketahuan?! "

"Aku harus kembali sekarang! "

"Tapi nanggung ini pesanan terakhir!! "

"Bagaimana ini lord? "

"Masuk saja? Tidak? Masuk? Tidak? Masuk? Tidak? Ma -ARGHHHHHHHH!! "

"Woi!! Diam!! "

Tersentak, Valeryn refleks mengatup mulut. Memakai kembali helm dan menutupi seluruh garis wajahnya. Si penjaga pagar mulai bosan dengar kebisingan Valeryn. Sedari tadi hanya bertahan di situ tanpa ikhlas melangkahkan kaki masuk. Valeryn memejamkan mata, menyatukan telapak tangan dan berdoa dalam hati. Semoga  semua cepat berakhir.

Valeryn pun masuk, melewati lift. Perlahan, tidak terburu-buru, dan berusaha bersikap biasa saja. Seperti kurir biasanya. Valeryn sampai di lantai sepuluh namun langkahnya terhenti setelah seorang wanita cantik memanggilnya dari belakang. Ya ampun, Valeryn sampai lupa bersebelahan dengan seseorang dalam lift.

"Kunci motor. "

Valeryn tersenyum kikuk dari balik helm, "Ah ... Terimakasih. "

Wanita itu juga ikut tersenyum. Oh lord, dia punya garis wajah indah dengan dua dimples nampak pada pipi kanan dan kiri. Suaranya lembut, halus, ayu, dan bernada. Napasnya saja mungkin bermelodi. Valeryn tidak mau insecure tapi wanita ini benar-benar cantik luar dalam.

Lupakan.

Valeryn kembali melangkah ke kamar 619 di ujung lorong khusus kamar VIP. Of course, lelaki itu tidak pernah ingin sesuatu yang sederhana. Bahkan untuk dirinya sendiri. Valeryn sampai di depan pintu. Menyiapkan segala hal yang perlu disiapkan. Detak jantung, tatapan mata, kecepatan kaki, dan tidak boleh ada barang yang jatuh. Valeryn malas membuat kenangan.

Ting nong~

Dia datang. Biarkan dia bicara. Valeryn diam dalam panasnya udara helm. Hingga dia menyodorkan uang, Valeryn langsung menarik  kertas dollar tersebut terus berlari cepat. Menuruni sepuluh lantai sampai ke parkiran. Valeryn melepas helm dan membiarkan udara menyapu keringatnya. Tunggu ... Kenapa rambut panjang ini hempas kesana kemari?

Ah, ikat rambut.

Ya ampun.

Valeryn engkau bodoh sekali.

Valeryn menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Cukup capek berlari tanpa dikejar. Valeryn bersumpah tidak akan mengulang ini lagi. Valeryn kembali mengendarai motor kurir dan melesat cepat meninggalkan gedung. Masih dengan detak jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Entah karena ngos-ngosan atau perasaan lain.

Ngomong-ngomong kenapa sekarang orang itu di New York? Bahkan membeli apartemen? Bagaimana kehidupannya di LA? Perusahaannya? 'mansion itu'? Keluarganya? Apa ditinggalkan begitu saja? Lalu apa yang dia buat di sini? Ah ... Sial. Kenapa Valeryn harus tau? Dia dengan kehidupannya bukanlah urusan Valeryn lagi. Valeryn sudah punya dunia sendiri. Bersama Gabriel dan Claude.

PROTECT 2 √Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang