50. Melawan Laba-laba Mesin

295 48 0
                                        

   Suasana kali ini semakin memanas sebab kami ada enam belas orang sedangkan pria itu hanya satu orang saja. Pria asing itu bukannya membebaskan kami melainkan menjebak di dunia ilusi yang sebenarnya. Semua yang awalnya hitam tidak ada pencahayaan tiba-tiba saja menjadi tempat yang sangat indah. Begitu banyak tanaman indah bermekaran, cuaca yang bagus dengan langit biru cerah dan kapas putih di sana.

"Kita berada di dunia ilusi persis yang ada di belakang sekolah waktu itu?"kata Judy melihat sekeliling yang baginya sudah tidak asing lagi.

"Apa orang itu yang membuat dunia ilusi di belakang sekolah?"tanyaku ke Judy. Haku menatap lurus ke depan dan berkata nada serius,"kita harus berhati-hati sebab lawan kita orang nya licik!"ucap ketua kelas  ke lainnya dibalas anggukkan semua nya.

"Dunia ilusi itu seperti fatamorgana. Jadi jangan sampai menyentuh bunga-bunga indah itu, bisa-bisa itu jebakan!"kata Rudy. Aku berpikir kalau kelas 1-E sudah berpengalaman mengenai dunia ilusi.

Tiba-tiba tempat indah bak taman bunga menjadi labirin dengan dinding tinggi-tinggi. Aku melihat dinding labirin yang sangat tinggi, besar dan kuat. Di depan kami ada pria memakai pakaian serba hitam tersenyum miring membuat ku ingin melayangkan tinjuan ke arahnya. Senyum an itu membuat ku muak.

"Selamat datang ke labirin penuh jebakan dan monster,kalau bisa tangkap aku,"ucapnya tersenyum lalu tertawa terbahak bak orang gila dan menghilang. Dimas yang ingin menyerang pun terpaksa di urungkan.

"Dasar orang menyebalkan! Berani sekali ia memainkan murid seperti kita!"ucap Dimas geram.

"Sabar, Dim. Sebentar lagi kita bakal keluar dari ilusi ini sekaligus menangkap pria itu!"kata Rudy.

"Kau benar, Rudy."balas Haku.

   Kami semua berjalan menelusuri labirin kosong ini buat mencari jalan keluar. Semua murid nampaknya was-was dengan sekitar, takut kalau ada monster atau jebakan yang di pasang oleh pria asing tersebut. Aku menjadi ragu, apa yang di katakan oleh pria tersebut tentang 'kegelapan' nyatanya ia bisa membuat ilusi senyata ini. Semenjak aku tahu suara,cara bicara apalagi senyuman yang membuat ku muntah.

Tengah asik berjalan tiba-tiba ada suara guncangan dari belakang kami. Setiap kami melangkahkan kaki, suara derap kaki besar itu lama-lama mendekat. Aku menoleh ke belakang seperti lainnya. Di sana kosong,tidak ada apapun.

"Suara apa itu tadi? "tanya Jesse mencari keberadaan sosok pemilik kaki besar.

Aku yakin kalau makhluk itu berada di dekat kami tetapi makhluk itu seperti nya bersembunyi. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan tanpa memperdulikan makhluk raksasa yang masih belum menunjukkan wujudnya. Labirin ilusi ini begitu nampak nyata, besar dindingnya dan lumut yang menempel di dinding labirin itu juga terlihat asli dan tidak memiliki cacat sedikit pun. Ternyata pria yang berdiri dalam kegelapan tidak memiliki imajinasi tinggi selain 'hitam'.

Pada akhirnya aku salah mengira, pria yang sempat ku pandang lemah, bodoh telah membuka kartu AS nya tidak seperti perkiraan ku. Ia lebih cenderung licik. Kami terus berjalan melewati dinding-dinding labirin sampai akhirnya langkah kami berhenti menoleh ke pangeran tidur.

"Ada apa Jud?"tanya Mas Daniel di sebelah Judy. Pemuda itu nampaknya mulai lelah dan kantuk,"rasanya aku ingin tidur deh. Hoam...ngantuk sekali."kata Judy menguap. Kedua matanya mulai tertutup.

"Jika kau tidur? Bagaimana bisa kita bebas dari labirin ini?"ucap Dimas berkacak pinggang. Aku melihat sekeliling labirin lagi merasa ada janggal di hatiku.

Pemuda berkacamata tersebut mulai tidur di atas tanah dan kedua tangan menjadi bantal,berbaring seolah ia berada di kasur. Ia mulai memejamkan mata,"kita sudah berputar selama 7 kali di tempat yang sama."ucap Judy membuat kami semua melotot mendengar perkataan luar biasa dari Judy.

"Kenapa lu nggak bilang dari tadi, Perjudian!"kesal Dimas frustasi.

Aku sudah menduga kalau ada rasa janggal dan seperti nya tempatnya sama seperti awal. Judy sudah terbang ke alam mimpinya. Jesse menoleh ke Haku yang diam saja.

"Bagaimana nih, Haku?"tanya Jesse khawatir dan takut.

"Kita harus memikirkan sesuatu terlebih dahulu,"ucap Haku.

"Kita tidak sempat melakukan itu! Karena kita sudah di kepung dengan laba-laba mesin yang menyeramkan."kata Alvin dan suara mesin besi karatan terdengar jelas dari arah depan dan belakang.

Aku yang melihat laba-laba mesin itu sangat mengerikan membuat mengingatkan ku terhadap Film The Maze Runner, grifer.

-Sekolah Aneh-

Suara mengerikan keluar dari laba-laba mesin itu. Kedelapan kakinya mulai melangkah cepat ke arah kami dari depan dan belakang. Haku mengeluarkan es untuk menjerat laba-laba tersebut. Di belakang, Jesse dan April mengeluarkan kekuatan.

Jesse mengeluarkan bola api ke laba-laba mesin sedangkan April menembaki dengan senjata kertasnya.

"Pedang pembunuh!"seru April. Kertas kecil keluar dari sakunya dan berubah menjadi pedang berwarna hitam legam. Gadis itu memegang pedang kuat-kuat, berlari ke mesin laba-laba tersebut.

Niall mengeluarkan teleport ke April membuat gadis itu menghilang dan berpindah di atas laba-laba mesin. Menancap kan pedang di laba-laba itu seketika laba-laba mesin mengeluarkan cairan mengerikan berupah usus dan cairan lainnya. Kemudian meledak menjadi potongan kecil.

"Yuh, itu menjijikan!"kataku jijik.

  Haku juga berhasil menghabisi laba-laba mesin dengan kekuatan esnya. Kami kira ini sudah selesai sayangnya laba-laba mesin datang lagi dengan memanjat dinding labirin membuat ku menelan rasa takut.

"Aduh, aku tidak bisa menyerang!"kata Yuli takut.

"Tenang saja. Ada yang lain akan melindungi yang lemah."kata Yugo.

"Seperti nya mesin laba-laba bakal banyak berdatangan deh. Suara mesinnya terdengar jelas dari telinga tajam ku."kata Yugo membuat Dimas menggerutu kesal.

"Dasar pria tidak tahu diri! Awas aja! Aku akan menghabisi nya!"geram Dimas ingin meninju pria itu.

Mas Daniel berkata kalau ini hanya dunia ilusi yang nampak nyata jadi beberapa dari kami harus mencari pria itu agar mengakhiri ini. Mas Daniel mengeluarkan senjata dan menembaki laba-laba mesin itu. Aku tersenyum, teryata Mas Daniel sangat jago mengunakan senjata itu apalagi dari ilusi tadi.

Aku diam sejenak melihat sekeliling begitu banyak laba-laba mesin berdatangan. Mata terpejam mencoba untuk membayangkan sesuatu sesuai keinginan ku. Selama ini aku mencari sesuatu yang cocok dengan ku dan berhasil ku temukan. Mata kembali terbuka melihat laba-laba mesin tengah melawan dan ujung-ujungnya menyerah.

   Sebuah sepasang dua pisau berada di kedua tangan ku. Yuli dan Yugo melihat itu kagum.

"Atma! Bagaimana kau bisa melakukan itu!"kata Yugo tersenyum.

Aku juga tersenyum membalasnya,"coba kau pejamkan dan bayangin apa yang ada pikiran mu. Ini adalah dunia ilusi!"jelas ku.

  Beberapa jam kemudian setelah melawan laba-laba mesin kami bersorak ria karena mesin kalah dengan kami berenam. Terdengar labirin ada yang terbuka lebar membuat kami merasa senang. Segera   kami berlari menuju gerbang terbuka tersebut.

- Sekolah Aneh-

Bersambung...

Sekolah Aneh [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang