Selesai lomba merias wajah,kami semua kembali ke kelas sebelum menghapus riasan abal-abal. Kami kelas 1-E memilih foto bersama dengan kelas penuh warna kreatif. Pemuda cogan SMA Krias 04, ada yang terlihat cantik dan topeng monyet. Dewa, terlihat tambah galak kalau di make up, aku tambah takut melihatnya serius. Ia sekretaris kelas yang pendiam, pendiam aja, aku takut apalagi kalau bermake up, buh tambah parah.
Jesse bibirnya merah merona bak tante-tante girang, rambutnya yang udah warna merah di tambah bibir merah pula. Ia juga meminta hal konyol,"rek! Kalian mau nggak aku cium satu-satu, di pipi. Buat cup bibir. Bibirku merah banget!"ucap Jesse muka polos.
Rasanya pengen aku buang ke jurang dah, batinku.
"Lu kira stempel bibir ha! Dih tubuh gue langsung merinding!"kata Dimas nggak biasa seraya meluk diri sendiri karena merinding.
Fian Xian Lu mendekatkan pipi nya ke Jesse,"nih cium pipi gue! Biar nggak bibir lu nggak monyong-monyong, mumpung gue buka jasa cium pipi!"katanya. Aku segera menutup mata dengan kedua tangan ku demi mata suci, sumpah mereka ada-ada saja kelakuannya. Sesekali mengintip dari celah-celah jari.
Niall melongo melihat mereka berdua, Dimas masih merinding. Haru yang melihat itu cengengesan. April mengusap lipstik di bibirnya dengan pembersih make up. Jesse yang tinggal beberapa cm mencium pipi Fian Xian Lu, Dewa tiba-tiba angkat bicara membuat waktu terasa berhenti.
"Ini lipstik mate, mana bisa nge-cup di pipi, stempel bibir."celetuknya membuat semua orang menoleh ke sekretaris yang diam-diam suka bener.
"Kau sungguh?"tanya Fian Xian Lu mendelik tidak percaya waktu menoleh ke kanan, dimana Jesse masih mematung di situ dengan bibir monyong. Fian Xian Lu menampar pipi Jesse.
Plak!
Pemandangan yang di luar dugaan, saudara-saudari.
"Woi!Kenapa lu nampar gue?!"ucap Jesse ngegas.
Fian Xian Lu menatap telapak tangan setelah menampar Jesse,"di pipi lo ada nyamuk jadi gue tampar! Gue nggak salah kan, Jes!"katanya sok polos gitu.
"Salah! Lu nampar nggak izin gue!"kata Jesse membuat Dimas tersenyum nakal.
"Oh kalau mau nampar atau mukul, Jesse. Harus izin dulu baru bisa mukul dan nampar sepuasnya hahaha!"kata Dimas tertawa jahat.
Akibatnya mereka bertiga main kejar-kejaran tidak peduli dengan riasan wajah yang masih menempel di muka mereka. Aku dan April melihat hasil jepretan tadi di kamera sekolah. Pak Sam tadi juga ikut lalu pergi, ada tamu yang datang.
"Fotonya lucu-lucu terus siapa yang bakal ngedit?"tanyaku ke Haru.
"Biar aku saja yang ngedit. Aku sudah lama nggak ngedit lagi,"celetuk pemuda berkacamata dengan rambut rapih, Rudy.
"Baiklah, nanti aku kirim foto dan videonya."
"Sebagai penutupannya kita minta guru dan kepsek,"kata Haru di balas anggukkan kami.
Sekarang waktunya melakukan syuting menghias kelas. Bangku-bangku di pindahkan ke tembok agar bisa memasang hiasan yang di langit-langit kelas. Atap kelas sudah tidak kumuh lagi seperti awal aku dan Mas Daniel masuk ke dalam kelas ini. Kemarin Dewa mengecat semua yang ada di dalam kelas ini bahkan atapnya pun di cat. Kursi di angkat keatas meja, April naik di atas meja kemudian di kursi seraya memegang gantungan burung.
"Pril! Hati-hati!"ucapku padanya.
"Tenang aja, aku hati-hati kok!"jawabnya memasang burung kertas di langit-langit.
"Atma! Bantu aku!"ucap Zulfa memberikanku pita panjang di bantu sama yang lainya.
Kami semua saling gotong royong dan ada saja yang membuat suasana menjadi hidup. Semakin lama kelas ini menjadi hidup, tidak ada yang seram. Demi promosi sekolah dan menyelamatkan sekolah harus penuh dengan semangat. Jika misteri sekolah ini masih ada setidaknya ada murid baru yang ingin sekolah di sini, seratus murid pun tidak apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekolah Aneh [END]
Fantasi{Buku Pertama: Sekolah Aneh Buku Kedua: Misteri dan Memori Buku ketiga: Black Hawk Buku keempat: Kembali SA Buku Kelima: Penggila Cinta} [PERHATIAN ⚠️ BEBERAPA PART DI HAPUS ACAK KARENA SEKOLAH ANEH SUDAH PINDAH KE INNOVEL/DREAM. RASAKAN BACA SEKOL...
![Sekolah Aneh [END]](https://img.wattpad.com/cover/249394967-64-k520589.jpg)