04. Sekolah Penuh Misteri

1.1K 145 107
                                        

Cuaca di luar masih tidak baik, hujan masih belum kunjung berhenti. Ruangan kelas semakin gelap dan memberi sedikit kesan horor. Suasana menjadi dingin akibat hujan di luar sana. Rasa dinginnya menusuk ke dalam tulang-tulang dengan segera aku menggosokkan kedua telapak tanganku agar tubuh menjadi hangat. Setidaknya ada rasa hangat walau sedikit.

Daniel melirik ke arah jarum jam yang ada di atas papan tulis sudah menunjukkan angka 4 sore. Ia menatap layar ponselnya menekan-nekan layar ponsel itu, pasti ada yang mengirim chat. Murid laki-laki sudah duduk anteng dan sibuk sendiri.

Ini membuatku tenang,mereka bisa diam tidak berisik seperti tadi saat debat. Mereka berisik banget ngalahin orang demo padahal cuma dua orang siapa lagi kalau bukan Dimas dan Niall di tambah sama Fian Xian Lu. Jesse sama sekali tidak angkat bicara dan memutuskan main kartu yang ia bawa.

Aku tidak menyangka aja kalau Jesse jago banget main kartu begituan sampai yang main sama dia, nyerah.

"Kapan hujan bakal reda?"tanya April melihat tirai-tirai yang terbang karena angin kencang. Dan Haru selalu membenahi jendela yang terbuka karena angin. Aku melihat langit-langit kelas, tidak ada yang bocor.

Bisa dibilang atap kelas ini seperti sudah lama tidak di urus atau pihak sekolah tidak mampu untuk membenahi karena minimnya murid. Bayangkan saja, di sekolah ini hanya ada dua kelas saja yang entah kelas satunya dimana. Dan kelas ku ini hanya ada 16 orang terdiri 4 perempuan dan 12 anak laki-laki.

Yuli menoleh ke April,"aku sendiri tidak tahu, kapan hujan akan redah. Bosan ya?"jawab Yuli dibalas anggukkan mantap dari April.

"Bosan banget,"kata April berkeluh menatap laki-laki yang asik main kartu, sibuk main ponsel dan ada yang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku juga merasa bosan sedari tadi diam, tidak melakukan apapun. Ketika semua hanyut dengan kegiatan masing-masing tidak ada yang ngelucu, bertingkah aneh atau hanya sekadar mengobrol santai.

"Atma!"panggil Daniel padaku. Aku menoleh ke Daniel.

"Ada apa?"

"Kata Mas Taiga kalau hujan tidak kunjung redah, kita di suruh menetap di sini dulu. Dan jangan pulang dulu."kata Daniel padaku.

Tentu saja aku membulatkan mata tidak percaya mendengar hal itu dan kenapa harus Mas Taiga yang jemput. Harus nya kan Mas Daisuke. Huh, rasanya tidak mungkin kalau Mas Daisuke yang jemput karena ia sibuk banget dengan pekerjaannya jadi tidak sempat untuk 'menjemput'.

"Kita nginap di sini!"pekik ku membuat semua orang lagi-lagi menatap ku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku lebih suka teriak sehingga mengalihkan perhatian orang lain. Entar di kira caper lagi.

"Ya, nggak nginap juga."kata Daniel menghela nafas panjang.

Setelah Daniel berkata seperti itu tiba-tiba suara gledek terdengar begitu keras.

Duar!!

Sehingga membuat semua orang kaget. Aku refleks memeluk Yuli yang ada di sebelahku, kaget. Suara gledek terdengar lagi dan lagi. Aku melihat Jesse dan Dimas pelukan sontak saja yang melihat itu melongo.

Jesse dan Dimas yang sadar segera melepaskan pelukan refleks itu, membersihkan najis lalu mereka berdua berkata kompak,"Jijik!"memalingkan wajah.

"Kalian berdua lucu sekali hahaha!"kata Rudy.

"Diam lu. Kenapa sih pakai acara peluk Jesse? Jijik! Euy!"kata Dimas.

"Dih, aku juga emoh meluk awakmu. Mending aku peluk cewek cantik daripada kamu,"ucap Jesse melirik sinis ke Dimas bentar lalu mengalihkan pandang ke arah lain.

Sekolah Aneh [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang