11. Terjebak di kelas 3-B

638 92 14
                                        

   Awan hitam sudah datang, angin berhembus kencang membuat dedaunan terbang sesuai angin membawanya. Aku menoleh ke jendela, gelap sekali-pikirku seperti dua hari yang lalu. Beginilah kalau sudah musim hujan datang, kadang panas dan kadang dingin.

"Tutup semua bukunya dan segera pulang sebentar lagi hujan datang!"ucap guru mempersilahkan semua murid membaca sesuai kepercayaan masing-masing.

Setelah itu semuanya berbondong-bondong keluar kelas. Daniel menatap ku,"hati-hati, kalau sudah selesai jangan lupa pulang dan kabari Mas Taiga."pesan Daniel padaku.

"Siap, Mas Daniel."seraya memberi jempol ke Daniel. Aku melihat punggung Daniel yang sudah hilang dari pandanganku. Sekarang, hanya tinggal enam orang saja di kelas.

Sesuai perjanjian kami kemarin. Haku menyuruh kami ke depan dan berdiri melingkar. Ia menjelaskan cara-cara untuk menarik ruangan kelas itu muncul. Belum apa-apa aku sudah merinding mendengarnya.

  Aku dan teman-teman menuju lantai tiga sekolah. Suasana mendung seperti ini menjadi lengkap sudah melakukan uji nyali walau masih siang hari. Jesse menghela nafas panjang berusaha untuk tidak takut atau terkejut karena kelas itu akan muncul tiba-tiba di tambah ada suara-suara seperti pintu di geser.

Dari keenam yang ikut memecahkan misteri kelas 3-B yang paling berani adalah Haku. Pemuda itu seolah tidak takut apapun dengan ke ganjalan yang ada disini.

"3,4,6,8,10,3,4,6,8,10,"kata Jesse berjalan menyentuh pintu kelas yang berjajar lalu kembali dan mulut terus menghitung angka genap.

Apa hantunya menyukai angka genap?-pikirku.

Jesse sudah menghitung sebanyak tiga kali terus menerus tetapi tidak ada tanda-tanda suara pintu bergeser atau apapun, sunyi. April angkat bicara memprotes Jesse.

"Sepertinya kau salah password nya!"

"Aku iki nggak salah loh, mungkin--"belum sempat Jesse berucap suara gesekkan pintu terdengar begitu nyaring membuat Jesse refleks memeluk April. Tentu saja April langsung mendorong Jesse kuat sampai terjatuh.

"Waduh, bokong ku lama-lama trepes nih(waduh, pantatku lama-lama jadi tipis)."keluh Jesse bangkit berdiri menggosok pantatnya yang sakit.

"Habisnya si lu tiba-tiba meluk gue. Ya udin, gue dorong aja. Gue jijik sama lu,"protes April membersihkan bekas tempelan Jesse.

  Kami melihat ada satu ruangan yang asing di mata kami. Aku mengerit melihat kelas itu yang di pintu ada tulisan 3-B atau 12-B. Sedari tadi aku melihat Jesse waktu nepuk pintu kelas 3,hanya ada huruf A,C, D, E dan F saja. Tidak ada kelas 3-B.

Lalu secara tiba-tiba kelas 3-B muncul. Tangan kami saling bergandengan dan memasuki kelas misteri itu bersamaan suara gledek terdengar mengejutkan kami semua.

"Aaa!"

Sontak saja kami langsung masuk dan jatuh di depan pintu 3-B,badan kami saling menindih. Aku merintih kesakitan karena punggungku di tindih oleh Zulfa. Ya allah, kurus sama gemuk, jadi penyet seperti tempe penyet aku--batinku.

Zulfa cepat-cepat berdiri dan meminta maaf padaku,"sepurane, Atma. Aku--(minta maaf, Atma. Aku--)."

"Ah, tidak apa-apa,"kataku melihat Zulfa memasang wajah bersalah sembari membantuku berdiri.

"Kalau di sini ada murid. Pasti kita akan di tertawa kan, masuk kelas tetangga nggak elit."komentar April menepuk jidatnya pelan.

"Suara gledeknya tidak kompromi sama kita langsung jedar! Gitu. Kan kaget!"kata Jesse. Haku membersihkan seragamnya yang kusut karena ia juga ikut terjatuh.

Sekolah Aneh [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang