84. Menyanyi dan Tukar Kado

273 49 4
                                        

Dimas mengambil gitarnya sedangkan Haru mengeluarkan laptopnya untuk mengiringi instrumen tambahan seperti drum, keyboard atau yang lainnya agar pas buat karaokean.

"Aku akan membuat kunang-kunang dari gambaran ku."kata April. Aku yang mendengarnya sangat antusias sebab kemarin malam permintaanku belum di turuti oleh April.

Wakil ketua kelas mengambil buku dan peralatan menulis lalu Zulfa ingin membantu memberikan cahaya pada kunang-kunang kertas itu. Aku tersenyum mengembang dan menjadi teringat kembali dimana hujan bakal turun dan membuat suasana kelas menjadi gelap gulita, menganggu penglihatan mata kami semua. Tanpa babibu April menggambar satu kunang-kunang berukuran besar lalu gambar tersebut menjadi hidup. Dan Zulfa menyanyi membuat rambut nya bersinar serta mengirimkan kekuatannya pada kunang-kunang yang sama sekali tidak ada cahaya apapun.

"Jagungnya masih tinggal 7 nih? Sekalian di bakar semua ya?"tanya Yuli di balas anggukkan yang lain.

"Yul, aku bantu ya?"ucap Mas Daniel beranjak dari tempatnya.

"Aku bakal buat teh hangat aja hehe. Angin disini tambah dingin kalau malam-malam."kata Jesse.

"Aku akan membantumu."kata Haku bangkit berdiri.

"Tidak perlu, Pak Ketua!"kata Jesse menolak bantuan Haku.

"Entar kau malah bikin tehnya semakin panas lagi." celetuk Niall bermaksud menyindir Jesse secara halus.

"Yo nggak lah! Sembarangan aja kalau ngomong!"protes Jesse dibalas tawa kecil pemuda berambut blonde itu. Niall seperti biasa pesan teh hijau.

"Mana ada teh hijau? Adanya mah teh celup!" kata Jesse sedikit ngegas.

Yang lain melihat pertengkaran kecil antara Jesse dan Niall terkekeh, melihat mereka berdua adu mulut. Aku melihat April menggambar kunang-kunang sebanyak enam kunang-kunang. Angin malam semakin dingin, api unggun masih menyala. Bayanganku mulai tergambar jika kunang-kunang yang di buat April terbang di tambah cahaya dari rambut Zulfa. Suasana kemah bakal indah di tambah nyanyian dan dansa.

Jreng jreng jreng!

Dimas mulai memetik gitarnya sembari tertawa. Dasar gila Dimas, batinku menatap pemuda itu ada-ada saja yang dilakukan. Haru mulai mengasih aba-aba pada kami semua.

"Are you ready all?"tanya Haru menatap kami semua bergantian.

"Haru, seperti grup band rock and roll yang mau mulai menyanyi."komentar Zulfa di sahut oleh Fian Xian Lu. "Dia bukan grup band rock and roll melainkan DJ Harun Rizki!"

Aku tertawa mendengar guyonan Fian Xian Lu. April sudah selesai membuat kunang-kunang dengan ajaibnya kunang-kunang tersebut menjadi hidup dan terbang ke udara. Zulfa memejamkan mata mulai menyanyikan lagu.

"Cahayaku, cahayaku. Kau adalah cahaya kehidupanku yang membawaku kesenangan."nyanyi Zulfa bersamaan rambutnya mulai bercahaya membuatku lagi-lagi kagum. Aku seperti melihat Putri Rapunzel lalu cahaya rambut Zulfa mengirim ke kunang-kunang ke gambaran April.

Hanya aku satu-satunya orang yang kagum melihat penyaluran kekuatan Zulfa ke gambaran April yang hidup itu. Aku seperti melihat ada deretan aliran listrik yang terpasang ke kunang-kunang tersebut. Setelah kunang-kunang terisi cahaya terang. Haru mulai menangkap salah satu kunang-kunang dan menyuruh para gadis menatapnya.

"Yul, Zul, April dan Atma. Lihatlah ini!"katanya memberikan perhatian pada kami berempat melihat tangannya yang menangkap satu kunang-kunang milik April.

Haru mulai menghitung mundur. "3,2,1!"serunya membuka tangannya dan keluarlah banyak kunang-kunang seketika sekeliling kami penuh dengan kunang-kunang.

Sekolah Aneh [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang