71. Kaget dan Cerita Mistis Sekolah

266 40 0
                                        

Gadis itu terus berjalan sembari menuntun sepeda, meski jalannya sedikit menyeret, rasa perih masih terasa, air hujan terus mengguyur membasahi tubuhnya. Ia mengikuti suara seseorang yang di kenalnya sembari membenarkan topi yang di pakainya.

  Penglihatannya tiba-tiba menjadi ganda,benda-benda di depannya mulai menjadi ganda dan buram. Kepala terasa pusing, April berusaha untuk menahan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang. Indra pendengarannya tidak mendengar puisi hujan tadi melainkan pertanyaan pendapat dan itu suaranya Jesse yang meminta Haku menilai puisinya. Senyuman terukir jelas di sudut bibirnya.

"Ketua kelas! Kau suka kan sama puisi hujan ku? Tadi, bagus nggak? Menyentuh ya?"tanyanya bahagia melihat pemuda bersurai abu-abu mengusap wajah dan menyentuh dahi, bingung. Mau berkata apa.

"Sepertinya mereka ada di dekat sini. Aku harus menemui, Haku dan Jesse."ucapnya pelan sesekali menahan rasa perih dan juga kepala yang perlahan semakin bertambah berat.

  April memegang kepala rasa pusing semakin menjadi-menjadi,pandangannya sudah seperti mata lalat yang begitu banyak benda yang lebih dari satu di tambah warna hitam. Tubuhnya ingin saja terjatuh. Namun, sekuat tenaga, April mencoba untuk menahan diri agar tidak pingsan. Air hujan terus jatuh dari langit sedikit deras. Langkah gadis itu berjalan lirih mengabaikan rasa pusing dan sakit di kakinya. Pegangan tangan di setir sepeda mulai merenggang, tubuh terasa sudah kehabisan tenaga, mata sudah tidak mampu terbuka dengan rasa sakit di kepala.

Brugh!

April terjatuh, pingsan di sebelah sepedanya serta di bawah air hujan yang tidak henti-hentinya membasahi bumi. Di sisi lain Jesse belum mendapatkan jawaban dari Haku, ia ingin sekali mendengar penilaian dari ketua kelas. Pemuda bersurai abu-abu masih menyentuh dahi, bingung lalu memegang dagu melihat Jesse tersenyum lebar dan mata berbinar, menunggu.

"Sebenarnya aku..."

"Ya, aku apa?Haku? Pasti bagus kan? Puisi ku tadi?"kata Jesse sumringah seperti anak kecil dengan kedua tangan di depan, tertekuk sedada dan badannya sedikit jongkok.

Haku menatap Jesse, kalem datar dan berkata,"tidak!"sontak saja Jesse melotot mendengar jawaban dari Haku.

"What do--"belum sempat Jesse berbicara pemuda bersurai abu-abu itu lari meninggalkannya. Jesse berbalik badan melihat punggung Haku menerobos hujan deras seolah tidak peduli dengan pakaian yang basah. Jadi teringat waktu seragamnya basah dan memiliki niat untuk mengeringkan seragam menggunakan kekuatan apinya tapi malah seragamnya terbakar akibat kekuatan api.

  Jesse masih melihat pemuda itu pergi. Matanya menyipit, dahi berkerut, alis menyatu,melihat seksama apa yang sebenarnya terjadi. Dan mata yang tadi menyipit sekarang terbuka lebar, tidak percaya apa yang di lihatnya.

"Ya tuhan!"pekiknya menyusul Haku.

    Awan mendung masih setia mengguyur bumi dengan hujan derasnya. Angin sedikit berhembus kencang membuat pohon-pohon sedikit menari. Jalan raya benar-benar sepi hanya ada beberapa kendaraan yang melintas menerobos hujan seperti truk besar-kecil dan kendaraan roda empat, kendaraan roda dua sangat minim jika hujan deras mulai mengguyur.

Di ruangan khusus yang ada dua ranjang perawat, nakas dan ada sedikit peralatan kesehatan seperti kotak P3K. Seorang gadis terbaring di atas ranjang kecil dan tidur damai. Luka yang ada di siku dan lututnya sudah terbalut perban rapih. Seorang pemuda memasuki ruangan uks sederhana yang berada di kantor polres, di kedua tangannya membawa air hangat dan kain kompres.

Pemuda itu meletakkan di atas nakas sembari melirik ke arah gadis yang masih belum sadar dari pingsannya. Tadi ia sangat terkejut saat Haku yang tiba-tiba menerobos hujan dan melihat ada sepeda yang tergeletak di sana. Saat melihat secara seksama ternyata itu, wakil ketua kelas. Jesse mencelupkan kain ke air hangat dan memeras kain tersebut.

Sekolah Aneh [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang