"Aduh, Atma! Sakit nih kupingku!"Jesse merintih kesakitan tetapi aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
"Atma, please lah. Kau kan calon biniku, masa galak banget sama calon suami."ucap Dimas membuatku semakin menarik daun telinga pemuda itu, masa bodoh dengan rintihan Dimas. Aku bodoh amat.
"Mandek lah,Ma. Kupingku panas nih, ngalahin kekuatan ku. Huhuhu."keluh Jesse yang seperti nya udah jera akibat jeweran maut seperti jeweran April. Seulas senyum terlukis di sudut bibirku, sebelum aku melepaskan telinga Jesse. Aku akan bertanya padanya. Pertanyaan paling muda, tidak sulit-sulit.
"Bagaimana perbandingan antara jewer an aku sama April?"tanyaku membuat Jesse bertambah mengeluh padaku.
"Alah, ojok takon ngunu lah! Kabeh yo jenenge di jewet, di jewer. Rasane yo loro kabeh. Moso yo onok roso madu, strawberry ambek nanas. (Lah, jangan tanya gitu lah! Semua kalau namanya di cubit sama di jewer. Rasanya ya sakit semua. Masa ada rasa madu, strawberry dan nanas.)" jawab Jesse lemah, ia seperti nya sudah pasrah kena jewer an dari ku.
Ekor mataku melirik ke Dimas, pemuda itu menatap Jesse dan menahan rasa sakit karena aku masih menjewer dua telinga pemuda yang selalu menjadi biang kerok. Aku berdiri di tengah-tengah menunggu Dimas angkat bicara.
"Lu kira jualan selai apa?ada rasa madu, strawberry dan nanas. Ini masalah jewer an bukan masalah selai!"jawab Dimas.
"Masa aku kudu jawab pertanyaan, Atma. Pakai rumus perbandingan!"
"Kan tadi, Atma tanya. Bagaimana perbandingan antara jeweran dia sama April? Ya sudah aku jawab gitulah. Rasanya sakit,tidak mungkin rasa; madu, strawberry dan nanas."jawab Jesse membela diri.
"Itu sama saja!"
"Nggak podo!"
Aku menghela nafas kasar dan menarik daun telinga mereka berdua. Suara teriakan kesakitan terdengar begitu nyaring membuat pasang mata tertuju ke arah kami bertiga.
"Atma, Sakit!"ucap mereka berdua kompak.
"Salah sendiri. Ribut. Siapa suruh ribut ha!"ucapku kesal dan akhirnya aku melepaskan jewer an maut ku melihat telinga Dimas dan Jesse, memerah. Inilah akibat menyuruh Haru mengambil foto orang sembarangan.
Langit masih terlihat cerah. Pak Sam membicarakan tentang acara nanti malam lalu besok mulai kemas-kemas peralatan dan tenda. Dimas mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan senyuman manis. "Main apa saja, pak. Duet nyanyi juga nggak apa-apa?"ucapnya.
Pemuda berambut pendek berkacamata menatap Dimas. Baginya usulan Dimas, tidak menyenangkan. "Kalau nyanyi, aku tidak bisa nyanyi dong."kata Rudy.
Dimas menepuk jidatnya. "Ah gue lupa."
Kini giliran Zulfa yang angkat tangan. "Bagaimana kalau bermain bola bom? Kalau musiknya berhenti, semuanya berhenti. Dan siapa yang memegang bola itu maka yang pegang mendapatkan hukuman!"usul Zulfa di balas anggukkan setuju. Sedangkan aku hanya diam saja,rasanya feeling ku tidak enak dengan permainan ini.
Mas Daniel angkat tangan. "Aku setuju, dengan usulan permainan Zulfa. Dan aku bakal yang menyetel musik buat orang yang kena hukuman."kata Mas Daniel.
"Dan bermain tebak-tebak kan hewan. Maksudku mulai huruf 'A' apa? Pokoknya yang berawal dengan huruf 'A'."kata Judy dengan dua tangan membentuk segitiga yang artinya huruf A.
"Pakai lagu pak polisi!"sahutku dibalas angguk April riang.
"Nah iya. Pak polisi, pak polisi tumpang tanya. Sebutkan atas nama hewan dimulai dari Atma di akhiri dari Dewa, di mulai huruf A."ucap April seraya menyanyikan lagu game yang akan di mainkan nanti malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sekolah Aneh [END]
Fantasy{Buku Pertama: Sekolah Aneh Buku Kedua: Misteri dan Memori Buku ketiga: Black Hawk Buku keempat: Kembali SA Buku Kelima: Penggila Cinta} [PERHATIAN ⚠️ BEBERAPA PART DI HAPUS ACAK KARENA SEKOLAH ANEH SUDAH PINDAH KE INNOVEL/DREAM. RASAKAN BACA SEKOL...
![Sekolah Aneh [END]](https://img.wattpad.com/cover/249394967-64-k520589.jpg)