Brak
Suara keras barang dibanting menggema, memecah keheningan ruangan. Gelas kaca pecah pecah di lantai, serpihannya memantul seolah mengirimkan peringatan pada siapa pun yang mendekat. Hawa di ruangan itu berubah drastis, tegang dan beracun, seolah-olah dinding-dindingnya menyerap kemarahan yang meledak
Lemari terbuka dengan kasar, buku-buku dan barang-barang kecil dilemparkan tanpa pandang bulu. Setiap sumpah serapah yang diucapkan mempertebal suasana menakutkan, masing-masing kata dilontarkan dengan penuh kemarahan dan kekecewaan. Nafas berat terdengar jelas di antara barang-barang yang jatuh ke lantai
“Kau lihat sekarang?!! Kebodohan yang kau lakukan ini! Dasar anak tak berguna! Kau sangat bodoh dan tak punya otak! Jika kau berusaha lebih keras lagi untuk mendekatinya, semua ini tak akan terjadi, sialan!! Dasar anak sialan!!"
Prankk
“Kau puas sekarang?!!! melihat ayahmu tertangkap dibawa ke penjara?!! kau puas?!!!”
“Eomma-nim, maafkan aku hiks aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkanya, tolong tunggu sebentar lagi”
Kalimat yang terucap dari seorang gadis yang tampak berlutut memohon maaf pada wanita paruh baya yang berdiri marah dihadapannya, tangis tak lagi dapat dibendung bahkan ketika ia menahannya
“Untuk apa?!! Sudah terlambat sekarang, Hyeri!! terlambat!! Ayahmu sekarang sudah dipenjara dan itu semua karna salahmu! anak pembawa sial...”
...
Angin malam berhembus kencang, dinginnya menusuk hingga ke tulang. Jaket tipis yang ia kenakan tak mampu melindungi tubuhnya dari rasa dingin yang semakin menggigit. Wajahnya tampak kusut, dengan mata sembab yang masih basah oleh air mata. Langkah kakinya gontai, seolah tak ada arah yang pasti. Setiap langkah terasa berat
Ia berjalan tanpa tujuan, membiarkan langkah kakinya yang dingin membawa tubuh lesunya ke mana pun. Langkahnya terhenti ketika merasakan kakinya begitu lemas hingga membuatnya terduduk disalah satu bangku taman
Kepalanya tertunduk, beban pikirannya semakin menumpuk, menyesakkan dada. Air mata yang sempat tertahan kembali jatuh tanpa perlawanan, menetes pelan dari sudut matanya. Suara isakan kecil terdengar di sela angin malam, begitu pelan namun terasa menusuk. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan luapan emosi yang kini menguasainya.
“Eomma, maaf hiks, maafkan aku hiks” lirihnya pelan sembari meremas erat rambutnya frustasi
Semua ini memang terjadi karnanya, semuanya adalah salahnya. Sial, mengapa ia tak berusaha lebih keras? Ia sangat tak berguna sekarang. Semuanya sudah terlambat untuk disesali olehnya
Kau itu hanya anak pembawa sial! Dasar anak sialan
Aku membuatmu menjadi cantik seperti itu bukan dengan cuma-cuma, sialan!!
Kau tak pernah mengikuti ucapanku. Kau hanya beban, Hyeri!
Aku menyesal melahirkan anak tidak berguna sepertimu! Mati saja kau!!
Dasar pembawa sial, pergi kau dari rumah!! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi
PERGII!!!
Isakan kembali keluar dari bibirnya ketika mengingat seluruh kalimat kejam itu. Begitu bencinya sang ibu terhadapnya hingga harus mengusirnya dari rumah. Benar, ibunya memang membencinya dari ia kecil, dan lagi-lagi karna kesalahannya sekarang ayahnya harus mendekam di penjara
KAMU SEDANG MEMBACA
NERD LOVE
Jugendliteratur"Hyung, aku suka gadis ini" ucap Jungkook menatap para temannya kemudian beralih kearah gadis berkaca mata yang menampilkan wajah datar didepannya Berawal dari kejadian digudang itu, setelah ia seorang Jeon jungkook direndahkan oleh sosok gadis Nerd...
