Cahaya redup dari lampu ruangan rumah sakit memantul di lantai yang dingin, menciptakan bayangan yang samar. Keheningan begitu mencekam, hanya suara samar langkah perawat di luar ruangan yang terdengar. Ia terduduk saat tubuhnya berguncang dengan napas tersengal. Air mata mengalir deras tanpa henti, membasahi wajah yang penuh dengan rasa kehilangan. Bukan hanya dirinya, semua orang tampak begitu terpukul tak percaya dengan kepergian ini
Tatapannya tertuju pada ranjang di depannya. Tubuh gadis itu terbujur kaku, selimut putih menutupi hingga dadanya. Wajah yang dulu penuh kehidupan kini pucat, bibirnya membiru, seolah waktu telah merenggut semua kehangatan darinya. Wajah itu terlihat begitu damai, namun bagi pria itu, keheningan ini lebih menyakitkan daripada apapun.
Tangannya gemetar saat perlahan ia meraih tangan dingin gadis itu yang menjuntai di sisi ranjang. Ia menggenggamnya erat, seolah berharap sentuhannya bisa membangkitkan kehangatan yang telah hilang. Namun, tangan itu tetap dingin, seperti es, tak lagi membalas genggamannya.
Bayangan kenangan mereka berdua mulai bermunculan di benaknya. Tawa cerianya, suara lembutnya, sentuhan hangatnya semua itu kini hanya tinggal memori yang menyiksa. Ia menutup matanya, tapi air mata terus jatuh, mengalir tanpa bisa dihentikan.
Monitor jantung yang biasanya menjadi pengingat bahwa gadis itu masih bertahan, kini telah diam. Tidak ada lagi bunyi yang menenangkan, hanya keheningan mutlak yang mengoyak hatinya.
Ia ingin berteriak, memohon, berdoa, apa saja agar waktu bisa kembali. Tapi tidak ada gunanya. Gadisnya telah pergi, meninggalkan kekosongan yang tidak akan pernah terisi lagi.
Ia meremas tangan itu dengan keras, mencoba menahan rasa sakit yang menyesakkan di dadanya. Rasa itu terus berputar di dadanya menyakitkan, menjadi mantra menyakitkan yang tidak akan pernah hilang.
Waktu terasa berhenti di ruangan itu, sementara ia tetap terduduk menunduk, terpaku oleh kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.
Menjadi hari terakhir setelah setengah tahun menemani gadis ini di masa koma. Terbaring di ranjang dengan selang infus dan berbagai macam alat medis yang menempel ditubuhnya. Sejenak merasa bersyukur karna gadis ini terbebas dari seluruh alat itu, tak memerlukan lagi semua kabel di tubuhnya, namun yang membuat keadaan dilanda badai adalah semuanya melayang bersama ruh yang juga ikut terbang tinggi
"Sayang, mengapa kau meninggalkanku? aku disini selalu ada untukmu, hanya ingin kau kembali. Aku berjanji akan selalu memelukmu, aku berjanji akan selalu ada untukmu. Aku menjanjikan semuanya, kumohon kembali untukku" ucapnya dengan tangisan menyayat yang menggema di segala penjuru ruangan
Ia menangis sejadi-jadinya untuk saat ini. Menangis hingga tubuhnya terasa begitu lelah dan kepalanya jatuh di lengan gadis ini selama beberapa menit, tautan tangan mereka yang tak lepas seolah ia tak akan membiarkan gadis ini pergi
"Kumohon kembali" itulah kalimat terakhir yang terucap setelah ia kelelahan hingga suaranya hampir habis
Terus memanggil nama itu, mengharapkan mata itu kembali terbuka dan tersenyum menatapnya, tenggelam dalam lamunannya.
Setengah jam lamanya ia terdiam, saat yang ia lakukan hanyalah terisak dengan seruan nama yang sama terus keluar dari mulutnya. Matanya menutup masih dengan air mata yang begitu deras mengalir, menikmati sentuhan ini untuk terakhir kalinya
Saat tiba-tiba matanya terbuka lebar dan tubuhnya berdiri tegak dengan keterkejutan yang begitu besar. Matanya terpaku menatap tangan mereka yang masih tertaut. Apakah ia hanya berimajinasi? Baru saja ia merasakan sebuah gerakan kecil dari jari itu, apakah itu semua hanyalah khayalannya karna begitu merasa bersalah? Sekalipun ia berharap bahwa itu nyata. Ia merasakannya, jari gadis itu yang bergerak seolah ikut menggenggam tangannya
KAMU SEDANG MEMBACA
NERD LOVE
Fiksi Remaja"Hyung, aku suka gadis ini" ucap Jungkook menatap para temannya kemudian beralih kearah gadis berkaca mata yang menampilkan wajah datar didepannya Berawal dari kejadian digudang itu, setelah ia seorang Jeon jungkook direndahkan oleh sosok gadis Nerd...
