Chapter 1 : Bring it

405 15 0
                                        




"Selamat menikmati" ucap seorang pelayan dengan senyuman yang sedari tadi terus ia perlihatkan pada pelanggan nya

Sebut saja namanya Jeon Woo ri. Atau kerap disapa Wuri, Gadis  berkaca mata yang sekarang menginjak kelas 12 pada sekolah menengah ternama di kotanya

Di umur yang ke-19 ia tinggal sendiri di rumah peninggalan orang tuanya, sepulang sekolah ia selalu bekerja di caffe yang tak jauh dari sekolahnya

Sedikit cerita ia sudah hidup sendiri sejak tahun pertama sekolah menengah atas, kedua orang tuanya meninggal saat ia berumur 17 tahun. Ia memiliki keluarga lain namun mereka tak tinggal bersamanya

Tuntutan hidup memilih agar ia bisa mandiri mulai sekarang, walaupun ia memiliki keluarga yang terkadang mengunjunginya dari kampung halaman

Ia pernah ditawari oleh sang paman agar ikut kembali ke illsan namun entah kenapa ia menolak ajakan tersebut, karena dorongan dari dirinya sendiri untuk lebih mandiri

Ia menghargai ketika sang paman juga bahkan ingin menyekolahkanya, namun ia lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah kecil ini apapun yang terjadi

Saat ini, sembari menunggu bus datang ia meregangkan otot otot tubuhnya yang kelelahan, entah kenapa tiba-tiba hatinya menjadi mendung saat merasakan kegundahan, ditambah ia melihat banyak orang yang menghabiskan waktu senggang dengan bermain bersama keluarga mereka. Yah semakin membuatnya merindukan kedua orang tuanya

Tak lama setelah bus berhenti ia menuju rumah untuk membersihkan jiwa dan raganya. Menghilangkan kepenatan hidup yang sangat jahat padanya

"Aku merindukan kalian" ucapnya meraih benda persegi empat di meja nakas, perasaan mendung seperti ini pasti akan datang ketika ia merasa lelah

Ia memeluk erat foto yang memperlihatkan dua orang dewasa tertawa riang bersama seorang gadis kecil ditengahnya

"Aku ingin bertemu kalian, aku lelah dengan hidupku, apakah boleh? Apa yang harus kulakukan? aku bingung...Aku lelah, eomma" tanpa sadar satu tetes air mata jatuh dari sudut matanya ketika teringat bahwa ia sudah menjadi anak yatim piatu selama kurun waktu hampir dua tahun

Berbicara dengan diri sendiri...Lagi


...



05:00 KST

Mengerjapkan matanya ketika cahaya terus mendorong kelopak matanya agar terbuka. Dengan masih setengah sadar, ia berjalan ke kamar mandi dan bersiap untuk ke sekolah, berharap semoga hari ini semuanya berjalan lancar

Selesai bersiap ia berjalan menuju halte bus yang sudah dipenuhi oleh banyak orang. Melirik arloji di tanganya yang menunjukan angka 06:15 menandakan hari sudah semakin siang

Tidak lama bus datang dan semua orang berebut untuk masuk. Kesialan mendatanginya bahkan ketika masih pagi, saat kakinya baru berpijak pada tangga bus, tiba-tiba seorang pria menyerobot dan menarik bahunya kasar hingga ia hampir terjungkal ke belakang karna hilang keseimbangan

Sejenak ia merasa pasrah jika ia jatuh, namun ia mematung kala merasakan sebuah tangan seseorang menekan punggungnya, menahannya agar tak jatuh. Ia menoleh dan membungkuk sopan pada pria bertudung itu, berterimakasih karna sudah membantunya

Saat ia masuk ke dalam bus, kembali  menghela nafas panjang ketika tak menemukan satu kursi yang bisa ia duduki. Dengan gerakan perlahan ia akhirnya memilih untuk berdiri

Ia merogoh ponselnya yang berdering didalam tasnya. Namun sopir bus menginjak pedalnya tiba-tiba hingga membuatnya tak sengaja terhuyung kebelakang, lagi lagi jika tak ada yang menahan punggungnya mungkin ia sudah malu didalam bus ini. Matanya membola ketika mengetahui yang membabgunya ternyata pria yang sama kembali membantuku tadi, Sial wajahnya sudah memerah karna menahan malu

"Tak bisakah kau lebih hati hati" ucap pria itu

"J-jusunghamnida" ucap Wuri sembari sedikit membungkuk dan meminta maaf (Maafkan saya)

Tak lama ia sampai di sekolah tepat waktu, ia berjalan menuju kelasnya dalam diam, duduk di kursinya meraih beberapa buku untuk dipelajari setelah akhirnya guru masuk dan memulai materi



...



Kriingg...

Waktu istirahat pun tiba, tiga jam duduk di kelas berhasil membuat punggungnya pegal. Ia keluar kelas dengan kotak bekal ditangannya

Berjalan mencari tempat yang tepat untuknya, terlalu berisik untuk makan dikantin maupun dikelas. Matanya seketika tertuju pada gudang belakang sekolah yang mungkin sudah tidak terpakai lagi akhirnya langkahnya memutuskan untuk membawanya kesana

Ia menyembulkan kepalanya memastikan bahwa tak ada siapapun didalam sana, setelah dirasa semua aman ia berjalan masuk perlahan dan mencari tempat dimana ia bisa makan

Ia berjalan kearah jendela dengan menggeret sebuah kursi. Betapa terkejutnya ia saat matanya menatap keluar, tubuhnya seketika serasa melayang ketika merasakan hembusan angin menerpa wajahnya, matanya menatap pemandangan yang begitu indah di depannya

Banyak pepohonan hijau yang menjulang tinggi dengan bukit bukit kecil yang dibawahnya terdapat sungai yang mengalir ditambah dengan mata air yang begitu menakjubkan

"Mengapa aku baru tau bahwa ada ada bukit ini di belakang sekolah"

Ia terus memandangi luar jendela hingga melupakan niat awalnya untuk apa. Ia duduk kemudian mulai menyantap makan siangnya saat matanya tak pernah lepas dari luar jendela

Ia merapikan kotak bekalnya setelah selesai makan, saat ia berdiri hendak meninggalkan gudang, langkahnya terhenti ketika samar-samar mendengar suara seseorang tertawa, telinganya menangkap tidak hanya dua atau tiga orang namun lebih, ia mengikuti dari mana asal suara tersebut dan menemukan segerombolan siswa yang sedang bercanda canda di sana

"Hmm tenyata ada orang" ucapnya sembari mengendikan bahunya

Saat ia hendak berbalik, sesuatu yang keras berhasil menabrak wajah dan tubuhnya alhasil merasa tidak seimbang ia terhuyung jatuh kebelakang hingga mengenai kardus yang bertumpuk disana, lebih parahnya lagi semua siswa yang ada di sana terdiam menatap kearahnya

"Wahh ternyata kita kedatangan tamu tak diundang" ia menoleh kembali kedepan saat melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri dihadapanya dengan senyum aneh, jadi yang ia tabrak tadi bukanlah dinding melainkan dada pria itu

"Bawa ia kemari"


NERD LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang