21:00 KST
"Sejarah" ucapnya pelan sembari kembali menunduk ketika tangannya terus bergerak untuk menyiapkan buku untuk sekolah paginya
Sejenak gerakannya terhenti ketika ia mendongak terdiam, samar sama telinganya menangkap suara ketukan pintu dari luar
"Ya tunggu sebentar" ucapnya yang kemudian berjalan menuju pintu keluar
Ceklek
"Wuri-ya" ia terdiam bingung dan terkejut ketika matanya menatap dua sosok yang ada dihadapannya saat ini
"Kemana saja kau anak nakal, aku sangat merindukanmu" ia masih terdiam ketika merasakan bahunyabyang diguncang, mencoba mencerna semuanya
"Kau tak merindukanku?"
"Ahh Halmeonie aku juga merindukanmu!!" Teriaknya keras sebelum kemudian sadar dan menghambur kedalam pelukan hangat sang nenek
"Bisakah kita bernostalgia di dalam saja, angin malam tak bagus untuk tubuh" ucap seorang pria paruh baya yang berdiri disana sembari menggeret dua koper
"Halmeonie kenapa kau datang sangat mendadak seperti ini" ucapnya saat menuntun mereka masuk kedalam rumah dan menutup pintu
Ini benar-benar mengejutkan, mereka datang tanpa memberinya kabar? Sial, ia bahkan sempat berfikir ini hanya halusinasi atau mimpi
"Kau tau aku menunggumu selama sebulan terakhir, berharap saat aku membuka pintu aku melihat batang hidungmu itu namun beraninya kau membuatku kecewa karna kau tak ada disana. Rinduku sudah setinggi gunung untukmu" ujar sang nenek sembari mencubit pelan perut cucunya yang tersenyum sembari meringis kecil
"Akh Halmeonie itu sakit, maafkan aku. Padahal aku berencana untuk pergi bulan depan saat uang ku cukup. Maaf karna membuatmu kalian khawatir dan menunggu" jelasnya sembari menatap sang nenek menyesal
"Apa kau hanya merindukan nenekmu, kau tak merindukan pamanmu ini huh" sontak ia mendongak kemudian menatap pria paruh baya yang berdiri disampingnya dengan tangan berkacak pinggang
"Ahh samchon tentu saja aku merindukanmu dan merindukan songie. Kenapa kau tak membawa bibi dan keponakanku huh" ucapnya yang kemudian memeluk sang paman yang berdiri disana (Paman)
"Karna aku tidak mengizinkannya"
"Ahh wae?" Ia mendongak menatap pamannya sembari menggelayut dilengan pamannya (Mengapa)
"Udara diluar sangat dingin tak mungkin aku membawa anak berumur 10 tahun dan wanita hamil" ujar sang paman santai
"Ahh begitu...Hah?...Tunggu--Bibi hamil!!" Ia menatap sang paman terkejut dengan mata membola tak percaya
"Itu baru--"
"Aku akan memiliki keponakan baru?! Benarkah?! Wahh senangnya, Halmeonie kau dengar itu? Paman membuatkan ku keponakan baru lagi?!!" Teriaknya keras sembari tertawa girang ketika sang paman menutup telinganya sebelum kemudian menyentil dahi gadis itu agar diam
"Berhentilah berteriak, Aish kau membuat gendang telingaku pecah" ia hanya diam kemudian memegangi dahinya namun kemudian menatap mereka berdua bergantian dengan lekat
"Mengapa kalian tak memberitahu ku? Betapa jahatnya kalian padaku"
"Jangan menyalahkan ku, aku sudah mencoba menghubungimu tapi kau tak pernah mengangkat teleponku" ujar sang paman tak terima
"Benarkah? Hahha maaf paman akhir akhir ini aku jarang membuka ponselku karna tugas yang menumpuk"
"Baiklah kami memafkanmu kali ini" ujar sang paman semabri tersenyum mengusak lembut rambut keponakannya
KAMU SEDANG MEMBACA
NERD LOVE
Teen Fiction"Hyung, aku suka gadis ini" ucap Jungkook menatap para temannya kemudian beralih kearah gadis berkaca mata yang menampilkan wajah datar didepannya Berawal dari kejadian digudang itu, setelah ia seorang Jeon jungkook direndahkan oleh sosok gadis Nerd...
