19:00 KST
Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Malam yang hangat menyelimuti kediaman keluarga Jeon. Setelah sesi pembuatan kue beberapa menit yang lalu yang dipenuhi dengan drama dan tawa, akhirnya dia wanita itu duduk di ruang tengah, menikmati hasil kerja keras mereka. Aroma manis dari kue yang baru keluar dari oven masih tercium, menggoda selera siapa saja yang mencium baunya.
Di tengah kehangatan itu, televisi menyala, menampilkan acara komedi yang seharusnya menjadi hiburan utama. Namun, seolah-olah televisi itulah yang menonton mereka, bukan sebaliknya. Mereka asyik bercerita satu sama lain, saling menceritakan tentang apapun yang dapat membuat mereka semakin nyaman satu sama lain
"Dulu aku mengharapkan seorang cucu perempuan" ujar nenek sembari meraih sendok untuk menikmati cake
"Benarkah? Apa kau tak suka memiliki cucu laki laki? Bukankah itu seharusnya lebih baik" jawabnya sembari menikmati kukis yang ada ditangannya
"Tidak, bukan begitu maksudku, justru aku bersyukur akan itu
Namun kau tau, momen inilah yang selalu ku tunggu jika aku memiliki cucu perempuan. Membuat kue bersama, menonton tv bersama, aku akan menemaninya berbelanja, aku bisa membelikannya gaun dan banyak lagi. Kau harus merasa terhormat, karna sudah mengabulkan keinginanku hahha" ujar sang nenek sembari tertawa menepuk pundak gadis dihadapannya yang ikut tersenyum
"Ohh jika memang seperti itu, aku merasa begitu terhormat atas ucapanmu" balasnya sembari terkekeh lembut
"Nenekku yang saat ini berada di Ilsan juga pernah berharap seorang cucu laki laki. Bibiku melahirkan anak perempuan dan eomma melahirkanku, seolah doa nya tak di ijabah oleh tuhan. Saat ditanya mengapa, ia selalu berkata bahwa cucu laki-laki akan menjadi pelindung yang baik. Tapi sejujurnya, aku pikir cucu perempuan juga bisa menjadi pelindung, dengan caranya sendiri. Apakah pemikiran wanita lansia memang selalu sama, kau dan nenekku hampir mengharapkan hal yang sama" sontak sang nenek tertawa kecil mendengar cerita itu
"Halmeonie, mulai sekarang kau bisa menganggap ku sebagai cucu mu, kupikir itu lebih baik. Aku terkadang juga merindukan nenek ku yang berada di illsan. Jika kau menganggap aku cucu mu, bolehkah aku menganggap mu sebagai nenek kedua ku?" Tawarnya yang sejenak membuat sang nenek terdiam sebelum kemudian mengangguk antusias
"Kau resmi menjadi cucuku sekarang, satu hal yang harus kau ubah" ujar nenek memperingati gadis dihadapannya
"Menyenangkan rasanya ketika aku mendapatkan cucu perempuan baru"
"Aku akan menjadi cucu perempuan yang baik untuk mu" ucap Wuri tersenyum membalas ucapan sang nenek
Waktu semakin berlalu, dimana mereka masih terus melanjutkan percakapan mereka satu sama lain. Wuri melirik ke arlojinya sejenak, mengangguk ketika tau bahwa malam semakin larut dan dengan berat hati ia sepertinya harus pergi untuk pulang daripada harus ketinggalan bus nantinya
"Halmeonie, sepertinya aku harus pulang sekarang" ujarnya sembari tersenyum kecil
"Kenapa? ini masih jam sembilan malam"
"Jika aku tak pergi ke halte sekarang, maka aku akan ketinggalan bus"
"Aku akan menyuruh Jeon Jungkook untuk mengantarmu" ujar sang nenek yang hendak berdiri
"Tidak, tak perlu. Aku hanya ingin pulang naik bus malam saja, lagipula aku harus ke tempat lain terlebih dahulu, itu akan merepotkan" ucap Wuri cepat sembari menahan lengan sang nenek
'tak ada sedikitpun kesepakatan yang adil jika lagi lagi aku diantar oleh makhluk satu itu' batinnya
"Kau yakin tak ingin diantar?" ia mengangguk yakin
KAMU SEDANG MEMBACA
NERD LOVE
Teen Fiction"Hyung, aku suka gadis ini" ucap Jungkook menatap para temannya kemudian beralih kearah gadis berkaca mata yang menampilkan wajah datar didepannya Berawal dari kejadian digudang itu, setelah ia seorang Jeon jungkook direndahkan oleh sosok gadis Nerd...
