Raja dan Kaisar itu saudara sekandung yang hanya terpaut satu tahun. Keduanya berparas tampan tapi memiliki sifat yang saling bertolak belakang.
Tabiat seorang Raja sangatlah ceria. Cowok extrovert itu punya sejuta tawa dan lelucon yang sangat Acash...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bulu kuduk Acasha masih saja berdiri meski ia sudah sampai di kelas. Terbayang olehnya wajah dan sisi menyeramkan Ratu yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun. Benar-benar seperti gadis yang berbeda pokoknya.
Jake menyambut kedatangan Acasha dengan senyum kesenangan. Tangannya langsung merangkul bahu Acasha dan membawa gadis itu duduk di bangku.
"Mama gue nanyain lo nih. Kangen katanya."
Acasha menanggapi dengan anggukan paham. "Nanti malam gue bakal telponan sama nyokap lo, tenang aja."
"Miris ya, Ca. Bisa-bisanya emang."
"Apa?! Lo mau ngeledekin gue, hah?"
"Kaga. Gila suara lo, kek toa rusak."
"Ihhh, sana! Mood gue hancur!"
Jake mencuatkan bibir lalu beranjak. Membiarkan Acasha sendiri merenungi segala dosa-dosanya. Haha.
Baik, kembali lagi. Tadi itu sangat menegangkan. Jadi seperti itu rasanya bersilat lidah dengan anak ambis dari MIPA 1. Dan Acasha akui, Ratu sangat pandai mengontrol ekspresi. Makanya orang lain mudah ketipu, cih!
Sini, mana yang bilang kalau Ratu itu positive vibes. Enggak ada positif-positifnya! Bualan dari mana itu?! Serius Acasha tanya.
Menggelikan.
Tadi saja sebelum pergi, Ratu kembali membisikkan kata-kata padanya. Ia bilang, "gue menantikan apa yang akan terjadi di masa depan. Jangan sungkan buat nampakin muka lo di depan gue ya, Ca."
Sialan banget 'kan? Dia pikir, dia siapa bisa ngomong kayak gitu? Maaf aja ya, muka Acasha lumayan cantik kenapa mau sungkan? Acasha percaya dirinya selangit kok. Tenang aja!
Tuh 'kan. Acasha jadi emosi lagi. Ratu benar-benar sangat ahli membuatnya marah.
Acasha membanting pelan tas ke atas meja. Gadis itu hendak menelungkupkan wajah namun urung begitu melihat sekotak cokelat di dalam laci. Lantas ia mengambilnya, bersamaan dengan itu, sebuah surat polos berwarna biru langit jatuh ke lantai.
Acasha celingak-celinguk, mencari seseorang yang cukup mencurigakan di sini. Tapi nihil. Anak kelas sedang berada dalam kesibukannya masing-masing.
Penasaran, Acasha meraih surat itu dan membacanya diam-diam. Kalau anak kelas sampai tahu, bisa heboh sampai pelosok Dirgantara.
Fatamorgana. Kamu tahu sesuatu seperti apa itu?
Maka berdirilah di depan cermin, dan lihat siapa yang ada di sana.
Penggemar Rahasia 01.
Tertegun. Acasha tidak bereaksi setelah membaca surat itu. Beberapa kali ia membalikkan isi kertas, tapi tetap tidak menemukan nama pengirimnya. Bahkan nama untuk siapa surat ini tertuju pun tak ada.